Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Berkat JKN, Warga Kudus Ini Kembali Bisa Melihat Usai Operasi Katarak

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 24 Oktober 2025 | 01:18 WIB
Malikhah, peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Malikhah, peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Kudus, Jamkesnews – Malikhah (65), warga Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, merupakan salah satu peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang sudah lama terdaftar pada segmen Pensiun ASN.

Sejak pensiun, ia rutin menggunakan JKN untuk pengobatan penyakit kronis yang dideritanya.

Sejak tiga tahun terakhir, ia juga menjadi peserta Program Rujuk Balik (PRB) karena memiliki riwayat hipertensi dan radang sendi yang mengharuskannya rutin kontrol.

Seiring bertambahnya usia, gangguan kesehatan yang dialaminya semakin bertambah. Kali ini penglihatan mata kirinya terganggu yang menyebabkan dirinya hanya bisa mengandalkan mata kanan untuk melihat.

 “Awalnya pandangan saya hanya kabur, di mata sebelah kiri. Saya pikir karena faktor usia saja. Lama kelamaan penglihatan mulai buram dan makin parah, seperti ada selaput yang menutupi pandangan saya. Perlahan itu prosesnya, sampai akhirnya mata kiri saya tidak bisa lihat sama sekali,” cerita Malikhah.

Saat gangguan itu makin menganggu, ia memutuskan memeriksakan diri ke dokter keluarga di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempatnya terdaftar. Dari pemeriksaan awal, dokter merujuk dirinya ke dokter spesialis mata di rumah sakit.

“Dari dokter keluarga, saya dapat rujukan ke RS Mardi Rahayu untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, karena diberikan hak kebebasan untuk memilih dokter, saya memutuskan memilih dokter Rosalia Septiana Widiastuti, spesialis mata,” ujarnya.

Pada waktu melakukan pemeriksaan di rumah sakit, Malikhah cukup terkejut dengan ramainya antrean pasien seumurannya yang juga rata-rata mengeluhkan hal yang sama. Ia merasa tidak sendiri melewati sakitnya.

“Rame sekali, banyak pasien dengan gejala sama. Saya tanya-tanya, hampir semua pasien tersebut pakai JKN. Saya jadi merasa tidak sendiri, ternyata banyak yang senasib,” ungkapnya sambil tersenyum.

Meski harus menunggu, Malikhah mengaku tidak keberatan. Baginya, pelayanan JKN yang diberikan dari rumah sakit dan keyakinannya pada kualitas dokter yang menangani membuatnya tenang.

“Saya maklum kalau harus antre, kan semua orang pasti ingin sembuh. Dokternya juga bagus, jadi meski nunggu lama, saya percaya saja. Toh semua ditanggung JKN, saya tidak keluar biaya tambahan apa-apa,” ucapnya.

Malikhah menjalani serangkaian pemeriksaan, hingga akhirnya dokter mendiagnosa bahwa penglihatannya terganggu karena katarak. Selanjutnya, dokter memutuskan untuk menjadwalkan tindakan operasi.

“Pertama mata saya dicek, kalau yang kanan masih normal dan bisa baca huruf kecil, tapi yang kiri sudah gelap, sama sekali tidak bisa melihat. Sebelum tindakan operasi dokter melakukan pemeriksaan gula darah dan hasilnya gula darah saya mencapai angka 150, akhirnya operasi dijadwalkan dua minggu kemudian sembari menunggu gula saya di angka normal,” jelasnya.

Saat jadwal operasi tiba, dokter kembali melakukan serangkaian pemeriksaan awal, kondisi gula darah Malikhah ternyata belum mencapai angka normal, meski dirinya mengaku sudah menjaga pola makan. Akhirnya dokter memutuskan tetap dilakukan operasi dengan bius total.

“Biasanya operasi katarak bisa dilakukan dengan bius lokal dengan cara meneteskan obat bius di mata. Tapi setelah pemeriksaan, kondisi saya tidak memungkinkan untuk bius lokal, saya akhirnya di bius total. Begitu sadar, operasi sudah selesai tapi mata saya masih terasa ngilu,” kenangnya.

Setelah selesai operasi, mata kirinya masih harus ditutup perban dan ia harus berhati-hati dalam beraktifitas. Malikhah mengaku lega, mata kirinya bisa segera melihat.

“Sehari penuh mata saya ditutup perban, tidak boleh kena cahaya atau air. Setelah dibuka, alhamdulillah pelan-pelan bisa lihat lagi meski belum jelas. Rasanya lega sekali walau sempat deg-degan karena di operasi,” ungkapnya dengan wajah berbinar.

Bagi Malikhah, pengalaman operasi katarak ini semakin meneguhkan keyakinannya pada manfaat Program JKN. Seluruh biaya ditanggung sepenuhnya oleh Program JKN, mulai dari pemeriksaan, obat-obatan, hingga tindakan operasi.

 “Mata ini kan indra vital. Kalau sampai tidak bisa melihat, hidup rasanya tidak berwarna. Makanya saya sangat bersyukur ada Program JKN. Semua prosesnya mudah, pelayanannya ramah, dan saya tidak perlu keluar biaya sepeser pun,” kata Malikhah.

Ia juga berpesan kepada masyarakat agar tidak ragu memanfaatkan Program JKN jika mengalami gangguan kesehatan. Karena menurutnya kesehatan sangat penting dijaga sebelum terlambat

“Kalau ada keluhan, segera periksa. Jangan takut soal biaya, karena Program JKN sudah menjamin. Saya sudah merasakan sendiri manfaatnya, lebih baik langsung diperiksa daripada terlambat,” tutupnya. (ds)

Editor : Mahendra Aditya
#program jaminan kesehatan nasional #BPJS Kesehatan 2025 #Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) #bpjs kesehatan #JKN #Kudus