Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Antara Kepercayaan dan Sains: Begini Cara Pawang Hujan Bekerja Menurut Masyarakat

Zainal Abidin RK • Kamis, 23 Oktober 2025 | 18:58 WIB
Ilustrasi hujan di tengah masyarakat tengah beraktvitas.
Ilustrasi hujan di tengah masyarakat tengah beraktvitas.

KUDUS — Di tengah persiapan berbagai acara besar di musim penghujan, kehadiran “pawang hujan” masih sering menjadi andalan banyak panitia di Indonesia.

Sosok yang dianggap mampu menunda atau memindahkan hujan ini tetap menarik perhatian publik — antara percaya atau tidak.

Dalam praktiknya, pawang hujan biasanya melakukan ritual khusus dengan doa, mantra, dan sesaji.

Mereka percaya bahwa cuaca dipengaruhi oleh keseimbangan energi alam, dan dengan niat serta doa tertentu, hujan bisa “dipindahkan” ke tempat lain.

Beberapa pawang juga menggunakan media simbolik seperti air, asap, garam, atau bunga, yang diyakini memiliki makna spiritual tertentu untuk menetralkan awan hujan.

Meski demikian, kalangan ilmuwan menilai fenomena ini lebih sebagai bagian dari kearifan lokal dan kepercayaan budaya, bukan sesuatu yang bisa dijelaskan secara ilmiah.

“Tidak ada bukti bahwa ritual pawang hujan secara langsung memengaruhi proses meteorologis,” ujar seorang peneliti cuaca dari BMKG.

Menurut sains, hujan terbentuk dari proses kondensasi uap air di atmosfer yang sangat kompleks, dipengaruhi oleh suhu, tekanan udara, dan angin.

Karena itu, hanya teknologi tertentu seperti penyemaian awan (cloud seeding) yang dapat memodifikasi cuaca secara terukur — misalnya dengan menyebarkan zat kimia seperti garam NaCl ke awan untuk mempercepat atau menunda pembentukan hujan.

Meski belum terbukti secara ilmiah, banyak masyarakat masih percaya bahwa kehadiran pawang hujan membawa “ketenangan batin”. Tak sedikit pula acara besar — mulai dari pernikahan hingga konser — tetap menggunakan jasa mereka.

“Kadang bukan soal percaya atau tidak, tapi soal ikhtiar,” ujar seorang warga yang pernah menggunakan jasa pawang hujan.

Bagi sebagian orang, pawang hujan adalah simbol hubungan manusia dengan alam. Antara tradisi dan sains, keberadaannya tetap menjadi bagian menarik dari wajah budaya Indonesia.

 

Editor : Zainal Abidin RK
#hujan #doa #pawang hujan #mantra #musim hujan #bmkg