KUDUS – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Lestari Moerdijat mengajak para guru sejarah di Kabupaten Kudus untuk berperan aktif dalam pelestarian budaya melalui pengenalan Situs Patiayam kepada generasi muda.
Ajakan itu disampaikan dalam kegiatan Temu Tokoh Nasional MPR RI Diseminasi Informasi yang digelar di Aula Sekda Kudus lantai 4, Kamis (16/10).
Kegiatan yang diinisiasi oleh komunitas Sahabat Lestari tersebut dihadiri oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Akhwan, dan Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Harjuna Widada.
Baca Juga: Dapur MBG Kudus Jadi Berkah untuk Pekerja Lokal, Begini Ceritanya
Serta dua peneliti lulusan Universitas Indonesia, Ruly Fauzi dan Mirza Ansyori, yang juga mewakili CPAS (Center for Patiayam Archaeological Studies), Keduanya menyampaikan paparan ilmiah terkait hasil penelitian dan potensi pengembangan kawasan Situs Patiayam.
Serta Guru Sejarah di Kudus sebagai pesertanya.
Dalam sambutannya, Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, menegaskan pentingnya peran guru dalam mengenalkan warisan budaya lokal kepada murid-muridnya.
“Guru adalah penghubung antara masa lalu dan masa depan. Melalui guru, anak-anak dapat memahami sejarah, mencintai, dan menjaga kekayaan budaya yang kita miliki, termasuk Situs Patiayam,” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian situs prasejarah itu tidak hanya penting dari sisi sejarah dan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.
“Kalau dikelola dengan baik, Patiayam bisa menjadi destinasi wisata edukasi yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. Ini bisa menjadi kebanggaan masyarakat lokal, khususnya Kudus,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Rerie juga memperkenalkan buku ajar sederhana tentang Patiayam yang akan dibagikan kepada para guru sejarah.
Baca Juga: Pengelolaan BUMDes Tunggak Jati Tumbuh Pesat, Jadi Percontohan di Kudus
Buku tersebut dilengkapi kode QR yang dapat diakses untuk mendapatkan materi digital, termasuk hasil penelitian terbaru mengenai situs tersebut.
“Kami tidak mencetak semuanya karena datanya sangat banyak. Guru bisa mengaksesnya melalui QR code agar lebih praktis dan mutakhir,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa hingga kini telah dilakukan dua tahap penggalian di Situs Patiayam, yakni pada Januari 2024 dan Juni 2025, dan akan dilanjutkan ke tahap ketiga pada November mendatang.
Dalam penggalian sebelumnya, tim menemukan fosil gajah purba (Elephas) dalam kondisi relatif utuh, yang kini telah dibuatkan casting dan prototipe untuk tujuan edukasi.
Rerie juga menyoroti pentingnya memperjuangkan status Situs Patiayam sebagai Cagar Budaya Nasional.
Saat ini, pengakuan tersebut masih dalam proses administratif karena sebagian wilayah situs berada di dua kabupaten, yakni Kudus dan Pati.
“Kita sudah berkomunikasi dengan Kementerian Kebudayaan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, statusnya bisa resmi menjadi situs budaya nasional. Mohon doa restunya dari Bapak Ibu guru,” tuturnya.
Di akhir acara, Rerie menambahkan perlunya dukungan infrastruktur, terutama akses jalan menuju lokasi situs.
“Aksesnya masih sulit karena status jalannya masih milik Perhutani, bukan jalan pemkab. Ini juga akan kami dorong untuk diselesaikan,” katanya.
Ia berharap, melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, dan guru, Situs Patiayam dapat terus dijaga dan menjadi warisan pengetahuan yang hidup bagi generasi mendatang. (dik)
Editor : Mahendra Aditya