Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dapur MBG Kudus Jadi Berkah untuk Pekerja Lokal, Begini Ceritanya

Andika Trisna Saputra • Kamis, 16 Oktober 2025 | 01:00 WIB
SIAPKAN: Pekerja tampak sibuk menyiapkan makanan yang akan dibagikan untuk program MBG, belum lama ini. (SPPG JATI UNTUK RADAR KUDUS)
SIAPKAN: Pekerja tampak sibuk menyiapkan makanan yang akan dibagikan untuk program MBG, belum lama ini. (SPPG JATI UNTUK RADAR KUDUS)

JATI – Aroma masakan hangat dan denting panci terdengar dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan Pattimura, Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Di balik kesibukan itu, puluhan pekerja lokal tampak bersemangat menyiapkan ribuan porsi makan siang untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bagi mereka, dapur ini bukan sekadar tempat kerja, tetapi juga sumber harapan dan kebersamaan.

Baca Juga: Puskesmas Rejosari Kudus Tambah Ruangan untuk Tingkatkan Pelayanan Kesehatan di Wilayah Pegunungan Muria

Salah satunya Tri Sugianto (58), mantan pedagang angkringan yang kini menjadi pengawas dapur MBG.

Ia tak menyangka kehidupannya berubah setelah bergabung dalam program pemerintah tersebut.

“Saya dulu jualan angkringan di GOR. Sekarang kerja di sini sejak April. Rasanya ringan dan menyenangkan, karena suasananya seperti keluarga,” tuturnya sambil tersenyum.

Sebagai pengawas dapur, Tri memastikan makanan tersaji tepat waktu dan aman dikonsumsi.

“Kadang kita dikejar waktu, harus selesai jam 11. Tapi semua dikerjakan bareng-bareng,” katanya.

Pendapatan dari pekerjaan ini membuat kondisi ekonominya lebih stabil.

“Dulu penghasilan hanya dari angkringan, sekarang bisa bantu biaya kuliah anak dan keperluan rumah tangga. Alhamdulillah, hidup lebih cukup,” ujarnya bersyukur.

Baca Juga: DPRD Kudus Desak Percepatan Pembangunan Pustu Colo

Tri menambahkan, banyak rekan kerjanya merupakan warga sekitar.

“Untuk dapur satu, banyak yang dulu pramusaji. Dapur dua malah direkrut dari warga Jepangpakis dan Karangpakis. Jadi hampir separuh pekerja di sini orang sekitar,” ungkapnya.

Menurutnya, program MBG bukan hanya memberi gizi untuk siswa, tapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal.

Kisah serupa datang dari Nurwati (52), karyawan bagian packing dapur MBG.

Baca Juga: Dinsos Kudus Siapkan Rumah Aman untuk Perlindungan Perempuan dan Anak

Ia mengaku bersyukur bisa bekerja di tempat yang memberi penghasilan tambahan sekaligus waktu untuk keluarga.

“Saya masuk jam empat pagi, pulang jam dua belas siang. Masih bisa ngurus rumah,” tuturnya.

Sejak menjadi janda, pekerjaan ini menjadi tumpuan utama keluarganya.

“Sangat membantu buat sekolah anak. Suasananya juga hangat, kami saling bantu kalau ada yang enggak masuk,” ucapnya.

Nurwati juga menekankan pentingnya kebersihan dalam setiap tahap kerja.

“Kita wajib pakai masker, sarung tangan, dan kuku enggak boleh panjang. Kalau pilek enggak boleh kerja. Semua disiplin,” katanya. Ia berharap program MBG terus berlanjut karena banyak ibu rumah tangga terbantu. “Program ini meringankan beban keluarga kecil seperti kami,” tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, menegaskan bahwa seluruh SPPG diminta segera mengurus Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi.

“Mitra SPPG dan ahli gizi berperan sebagai pengendali mutu, mulai dari pemilihan bahan hingga pendistribusian MBG,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Jati Kudus, Maulidhina Mahardika, menyebut ada 47 karyawan yang bekerja di dapur MBG Jati, seluruhnya merupakan warga sekitar.

Setiap hari mereka memproduksi sekitar 3.700 porsi makanan untuk siswa di 15 sekolah serta posyandu ibu hamil dan menyusui.

“Distribusi dimulai pukul tujuh pagi untuk TK dan SD, lalu pukul sepuluh untuk SMP, dan pukul sebelas untuk SMA,” paparnya.

Menurut Maulidhina, setiap proses produksi diawasi ketat sesuai SOP Badan Gizi Nasional (BGN).

“Karyawan wajib berganti pakaian, memakai penutup kepala, alas kaki bersih, masker, dan sarung tangan agar tidak ada kontaminasi,” ujarnya.

Menariknya, anak-anak penerima program MBG juga bisa memberi masukan soal menu.

“Misalnya minta burger, tapi kami modifikasi dengan isian bergizi seperti ayam katsu dan sayur segar,” kata Maulidhina.

Ia menegaskan, program MBG bukan hanya memastikan anak-anak mendapat makanan sehat dan bergizi, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan ekonomi warga sekitar.

“Dapur ini memberi manfaat ganda, gizi untuk anak, dan pekerjaan untuk masyarakat. Itulah semangat MBG di Kudus,” tandasnya. (dik)

Editor : Mahendra Aditya
#SPPG #Mbg #pekerja #Kudus #Pemenuhan gizi