KUDUS - Limbah daun nanas disulap oleh masyarakat Desa Tergo, Kecamatan Dawe menjadi sebuah kerajinan dan berdampak pada ekonomi.
Olahan daun nanas itu mampu menembus pasar nasional hingga internasional, dan berhasil disulap menjadi beberapa barang kerajinan.
Diantaranya, tas, dompet, peci, dan lainnya. Kreasi olahan daun nanas menjadi kerajinan ini dilakukan oleh Suwanto, 42 warga RT 2/3 Desa Tergo.
Suwarno memperoleh bahan baku daun nanas ini dari kebunnya. Ia mengambil daun-daun tersebut kemudian dibersihkan setiap ujungnya.
Daun yang telah dipotong tersebut kemudian dijemur di bawah terik matahari. Proses penjemuran kurang lebih satu Minggu.
Setelah benar-benar kering, daun nanas tersebut diberikan pewarna kimia. Proses pemberian warna ini dilakukan dengan cara direbus bersama.
Warna yang diolah ada beberapa ragam, mulai dari hijau, cokelat, merah, hingga ungu. Warna tersebut merupakan ciri khas dari produk-produknya.
”Setelah pemberian warna, daun diserut dulu baru dianyam sesuai dengan pola,” katanya.
Suwarno menambahkan, setelah anyaman itu rampung kemudian digunting sesuai pola cetakan.
Tahapan selanjutnya adalah penjahitan pada pola barulah menjadi barang kerajinan. Seluruh proses pengerjaan ini memakan waktu kurang lebih dua Minggu.
Bapak empat orang anak ini menjelaskan, pertama kali ia sudah mencoba membuat kerajinan dari daun pandan.
Namun penerimaan pasar yang sulit terhadap daun pandan, membuat ia beralih ke daun nanas.
”Saat itu saya uji coba menggunakan daun nanas kurang lebih tiga bulanan. Saya gagal coba lagi, akhirnya mendapatkan formulanya,” kata dia yang sudah menekuni kerajinan daun nanas tiga tahun ini.
Bahan baku kerajinan dari daun nanas ini dinilai lebih awet dari pandan. Menurut Suwarno, warna dan tekstur daun nanas bisa awet hingga empat tahunan.
Oleh sebab itu, permintaan pasar terhadap daun nanas ini cukup tinggi di pasaran. Pembeli dari luar kota hingga internasional terpikat terhadap tas daun nanas ini.
”Yang banyak dipesan biasanya kebanyakan tas, karena bentuknya unik dan ada kesan tradisional,” ungkapnya.
Saat ini pemasaran kerajinan daun nanas ini sudah sampai seluruh Indonesia. Untuk pasar luar negeri menembus negara Malaysia, Afrika, China, hingga Libya.
Harga jual barang kerajinan dari daun nanas ini harganya cukup bervariasi, mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 500 ribu. Harga tersebut tergantung pada kerumitan dan jenis kerajinan. (gal)
Editor : Ali Mustofa