RADAR KUDUS – Fenomena meteor yang sempat menghebohkan warga di kawasan Tegal hingga Cirebon ternyata terekam jelas oleh Observatorium Yanbuul Quran Menawan di Kabupaten Kudus.
Dalam rekaman tersebut, guratan meteor tampak memancarkan warna beragam, mulai dari merah hingga hijau, menciptakan pemandangan langka di langit barat.
Direktur Observatorium Yanbuul Quran Menawan Kudus, Nur Sidqon, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada 5 Oktober 2025 pukul 18.35 WIB, dan berhasil terekam melalui kamera all sky yang terpasang di observatorium.
Baca Juga: Langit Cirebon Disapa Bola Api Raksasa, Fenomena Meteor Terekam Jelas dari Kudus
“Fenomena meteor ini memang ramai dibicarakan di wilayah Cirebon. Namun, dari Kudus pun kami bisa melihatnya dengan jelas berdasarkan citra yang terekam pada pukul 18.35 WIB,” ujar Sidqon, Senin (8/10/2025).
Ia menambahkan, saat meteor melintas, posisi bulan berada di timur dan hampir mencapai fase purnama. Sementara meteor tampak di sisi barat Kudus.
“Pada citra terlihat bulan bersinar terang di timur, dan di arah barat muncul goresan cahaya yang merupakan meteor.
Meski jarak Kudus–Cirebon sekitar 250 kilometer, meteor tetap terlihat karena berada di ketinggian sekitar 500 kilometer di atas permukaan bumi,” jelasnya.
Sidqon menegaskan bahwa goresan bercahaya tersebut adalah meteor yang jatuh dan bukan fenomena optik biasa.
“Dari bentuknya yang runcing di ujung dan warnanya yang beragam, sudah bisa dipastikan itu meteor. Tanpa kesaksian warga pun citranya menunjukkan ciri khas meteor jatuh,” ungkapnya.
Dalam foto hasil pantauan observatorium, tampak citra berbentuk lingkaran seperti hasil kamera 360 derajat.
Baca Juga: Jalur Pantura Rembang Memakan Korban, Dua Nyawa Melayang Usai Terlindas Truk, Begini Kronologinya
Di sisi timur tampak bulan terang, sedangkan di barat terlihat guratan cahaya berwarna putih, merah, dan hijau.
Menurut Sidqon, warna-warni itu timbul karena proses gesekan antara meteor dan atmosfer bumi.
“Gesekan itulah yang menyebabkan munculnya warna hijau, merah, hingga oranye pada meteor,” ujarnya.
Tak hanya di Kudus, fenomena itu juga dirasakan warga di Cirebon, Tasikmalaya, hingga Kuningan.
Mereka mengaku sempat melihat kilatan cahaya di langit diikuti suara dentuman keras beberapa detik kemudian.
Baca Juga: Hukum Sebab Akibat dalam Islam: Menyelami Ikhtiar, Takdir, dan Hikmah Ilahi
Sebagian warga bahkan menyebutnya seperti “bola api raksasa” yang meluncur dari langit.
Peneliti senior Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, mengonfirmasi bahwa suara tersebut bukan berasal dari ledakan di darat, melainkan akibat gelombang kejut saat meteor menembus atmosfer dengan kecepatan tinggi.
“Suara dentuman itu merupakan efek sonic boom dari meteor yang melintas. Kemungkinan besar benda tersebut jatuh di laut, sehingga tidak menimbulkan kerusakan di daratan,” jelasnya.
Para ahli menjelaskan, warna-warni cahaya meteor muncul dari unsur kimia yang terbakar di udara.
Natrium memunculkan warna kuning, magnesium menghasilkan hijau kebiruan, sementara nitrogen dan oksigen menimbulkan rona merah.
Kombinasi unsur itulah yang menjadikan meteor tampak seperti kembang api alami di langit malam.
Meskipun hanya berlangsung beberapa detik, peristiwa langka ini meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat dan ilmuwan.
Bagi para peneliti, meteor Cirebon menjadi momen penting untuk memahami interaksi antara benda langit dan atmosfer bumi.
Sedangkan bagi masyarakat, kejadian ini menjadi pengingat akan keindahan dan dinamika alam semesta yang menaungi kehidupan di Bumi.
Editor : Ali Mustofa