KUDUS – Fenomena langka kembali menghiasi langit Indonesia.
Sebuah meteor melintas di atas langit Cirebon dan berhasil terekam oleh Observatorium Yanbuul Quran Menawan Kudus, Minggu (5/10) sekitar pukul 18.35 WIB.
Guratan cahaya berwarna-warni tampak jelas di arah barat dan memukau siapa pun yang menyaksikannya.
Baca Juga: Garuda Masih Punya Peluang: Lima Skenario Indonesia Lolos ke Piala Dunia 2026
Direktur Observatorium, Nur Sidqon, membenarkan bahwa cahaya tersebut merupakan meteor yang menembus atmosfer Bumi.
“Goresan cahaya di langit barat pada pukul 18.35 WIB itu identik dengan meteor jatuh. Bentuknya runcing di ujung dan tampak berwarna-warni, dari hijau hingga merah. Itu tanda adanya gesekan kuat dengan atmosfer,” jelasnya, Rabu (8/10/2025).
Sidqon menjelaskan, fenomena tersebut terekam melalui kamera all sky yang dipasang di Observatorium Yanbuul Quran Menawan Kudus.
Saat peristiwa terjadi, bulan di sisi timur hampir mencapai fase purnama, sehingga kilatan meteor terlihat semakin jelas.
“Meski teramati di Cirebon, dari Kudus juga tampak jelas di arah barat. Jarak Kudus–Cirebon sekitar 250 kilometer, dengan ketinggian meteor sekitar 500 kilometer di atas permukaan Bumi,” terangnya.
Sementara itu, sejumlah warga Cirebon, Tasikmalaya, hingga Kuningan mengaku sempat mendengar suara dentuman keras beberapa detik setelah cahaya terang melintas.
Sebagian bahkan menyebutnya sebagai “bola api raksasa” yang jatuh dari langit.
Baca Juga: Lini Sayap Jadi Lubang, Timnas Indonesia Gagal Pertahankan Keunggulan di Jeddah
Fenomena tersebut kemudian dikonfirmasi oleh peneliti senior Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin.
Ia memastikan bahwa suara dentuman bukan akibat kebakaran atau ledakan di darat, melainkan efek gelombang kejut saat meteor memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi.
“Bola api itu menimbulkan gelombang suara yang bisa terdengar hingga wilayah Tegal dan Pekalongan. Berdasarkan pantauan, meteor kemungkinan jatuh di laut, sehingga tidak menimbulkan kerusakan di daratan,” ujarnya.
Menurut para ahli, warna-warni cahaya pada meteor berasal dari unsur kimia yang terbakar saat bergesekan dengan udara.
Unsur natrium menghasilkan cahaya kuning, magnesium menimbulkan warna hijau kebiruan, sementara nitrogen dan oksigen dari atmosfer Bumi memberi rona merah.
Baca Juga: Pelatihan Coding Dongkrak Kapasitas Guru Kudus
Kombinasi semua warna itu membuat meteor tampak seperti pesta kembang api alami di langit malam.
Meski hanya berlangsung dalam hitungan detik, fenomena ini meninggalkan kesan mendalam.
Bagi ilmuwan, meteor Cirebon menjadi momen penting untuk meneliti interaksi antara benda langit dan atmosfer.
Sedangkan bagi masyarakat, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Bumi tidak terpisah dari alam semesta, melainkan bagian dari sistem kosmik yang luas dan dinamis.
Editor : Ali Mustofa