JATI — Perayaan Kue Bulan yang digelar umat Khonghucu di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, menjadi simbol kebersamaan lintas agama sekaligus ajang pelestarian budaya leluhur.
Acara tersebut dipimpin oleh Ketua Khonghucu Kudus, Goei Tjwan Gie, yang menjelaskan makna dan nilai luhur di balik tradisi pertengahan musim gugur ini.
Tradisi Kue Bulan selalu jatuh pada tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek.
Baca Juga: Mahasiswa KPI UIN Sunan Kudus Belajar Proses Produksi Berita di Jawa Pos Radar Kudus
“Pada waktu itu bulan dipercaya sedang dalam kondisi paling sempurna. Kami bersyukur kepada Dewa Bumi atas hasil panen, dan juga memperingati ulang tahun Dewa Jodoh,” terang Goei.
Dalam perayaan tersebut, dibagikan buah stroberi yang melambangkan cinta kasih, dibungkus dengan pita merah.
Sebagai simbol harapan agar siapa pun yang belum berjodoh segera dipertemukan dengan pasangan yang baik.
Menariknya, acara kali ini digelar di bekas lokasi kelenteng tua di Tanjungkarang.
Meski bangunannya sudah dipindah, bekas tatakan tiang penyangga masih tampak di area tersebut.
“Kami memilih tempat ini tidak sembarangan. Ada ritual khusus dan keyakinan bahwa di sini terdapat benda-benda pusaka peninggalan masa lampau,” tutur Goei.
Ia menambahkan, situs ini dipercaya sebagai lokasi kelenteng pertama di Kudus sekitar tahun 1796, sebelum dipindah di lokasi saat ini, seiring pembangunan jalan Kudus–Purwodadi.
Bagi umat Khonghucu, Kue Bulan tidak hanya simbol kebahagiaan, tetapi juga kesetiaan.
Baca Juga: Mahasiswa KPI UIN Sunan Kudus Belajar Proses Produksi Berita di Jawa Pos Radar Kudus
“Maknanya mendalam, yakni setia kepada pasangan, negara, dan sesama. Tahun lalu kami adakan kecil-kecilan dan banyak hal baik terjadi. Ada yang sembuh dari sakit, ada pula yang rezekinya lancar. Kami tidak meminta donasi, tapi banyak yang datang membantu dengan sukarela,” ujarnya penuh syukur.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program Kampung Moderasi Beragama yang tengah dikembangkan di Kudus.
“Kami ingin acara semacam ini membuka wawasan masyarakat, agar semakin memahami dan menghormati keberagaman,” kata Goei.
Ia menyebut bahwa keberadaan ruang perjumpaan lintas iman seperti ini menjadi magnet baru bagi wisata religi dan edukasi toleransi.
Baca Juga: Sidorekso Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah di Kaliwungu
Kepala Kantor Kementerian Agama Kudus, Sony Wardana, yang hadir dalam kegiatan itu, menyambut baik perayaan tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi umat Khonghucu yang melaksanakan perayaan Kue Bulan di situs Kampung Moderasi Tanjungkarang. Semoga doa dan harapan mereka dikabulkan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan keagamaan dari berbagai umat di lokasi ini akan memperkuat nilai moderasi dan menciptakan destinasi wisata religi di Kudus.
Sony menambahkan, Desa Tanjungkarang sebelumnya sempat mengalami konflik kecil antarumat terkait area pemakaman.
Namun, berkat komunikasi dan kebersamaan warga, persoalan itu dapat diselesaikan dengan damai.
“Inilah bukti nyata moderasi. Kami berharap kampung ini menjadi contoh ruang perjumpaan lintas agama menuju terciptanya persatuan dalam bingkai NKRI,” katanya.
Dukungan juga datang dari Pemkab Kudus yang tengah memproses peralihan tanah bengkok petinggi menjadi tanah desa agar pengelolaannya lebih teratur.
“Masterplan sudah selesai. Ke depan, akan dibangun lima ikon agama, panggung kegiatan lintas iman, serta museum benda-benda keramat dari enam agama di Indonesia,” papar Sony.
Baca Juga: Inovatif, Pemasangan EWS oleh Tim Pengabdian Masyarakat-BEM UMK diapresiasi Pemdes Setrokalangan
Proyek ini rencananya akan menggandeng CSR perusahaan di Kudus dan dibantu pembangunan akses jalan melalui program TMMD.
Ia berharap, perayaan Kue Bulan di Tanjungkarang bukan hanya tentang budaya dan kepercayaan, tetapi juga tentang menyatukan perbedaan dalam harmoni.
Tradisi yang berakar dari syukur dan kesetiaan itu kini menjadi simbol kuat toleransi dan kedamaian di bumi Kudus. (dik)
Editor : Mahendra Aditya