Kudus, Jamkesnews – Maura Anjelli Rizky Raharjo (21), seorang mahasiswa semester tujuh asal Mejobo Kabupaten Kudus ini merupakan peserta aktif segmen keluarga Pekerja Penerima Upah (PPU). Usianya kini menginjak 21 tahun dan status kepesertaan JKNnya nonaktif.
Ditemui di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Kudus, dirinya sedang memproses pengaktifannya kembali. Maura perlu meminta surat keterangan aktif kuliah dari pihak kampus karena dirinya yang masih menjadi mahasiswa.
“Tadi saya sudah bertanya ke petugas pelayanan, untuk pengaktifan kembali status kepesertaan yang nonaktif karena berusia lebih dari 21 tahun perlu menyertakan surat keterangan masih kuliah dari pihak kampus. Dan pengaktifannya sendiri tidak perlu datang ke kantor, bisa melalui whatsapp PANDAWA di menu administrasi kemudian pengaktifan kembali jenis kepesertaan untuk usia lebih dari 21 tahun,” jelas Maura.
Maura terdaftar menjadi peserta JKN sejak tahun 2014, pada saat dirinya berusia 10 tahun. Ia mengaku terakhir kali berobat menggunakan JKN sudah beberapa tahun yang lalu, karena kondisinya yang sedang merantau di Kota Yogyakarta dan hanya beberapa bulan sekali pulang ke Kudus.
“Kebetulan saya kuliah di Jogja dan faskes saya masih di Kudus, karena selama ini untuk berobat disediakan klinik dari kampus dan digratiskan bagi mahasiswanya. Cuma saat ini saya sedang magang di Kudus dan waktu saya cek JKN saya, ternyata kepesertaannya nonaktif jadi mau saya urus,” tutur Maura.
Meski dirinya jarang menggunakan JKN, Maura bercerita bahwa Program JKN sangat membantu keluarganya, terutama ayahnya yang saat ini menderita diabetes mellitus. Berkat JKN, ayahnya tetap mendapatkan pelayanan yang baik dengan biaya terjamin.
“Ayah saya sudah lama menderita penyakit diabetes mellitus, mungkin sejak saya belum lahir di tahun 2000-an. Saat itu ayah masih berobat ke dokter spesialis penyakit dalam menggunakan biaya sendiri. Tapi setelah terdaftar kepesertaan JKN, kami bersyukur karena ayah tetap bisa kontrol di dokter yang sama dengan biaya konsultasi dan obat ditanggung JKN,” ujar Maura.
Kini ayahnya rutin kontrol menggunakan JKN di RS Mardi Rahayu per dua minggu sekali setiap hari Kamis.
Bagi penderita diabetes mellitus, rutin kontrol sangat penting untuk membantu memantau kadar gula darah, mencegah komplikasi serius, dan memastikan penanganan medis yang tepat.
“Kontrol rutin itu sudah menjadi kewajiban ya bagi penderita diabetes seperti ayah saya. Dan dulu awalnya ayah saya kontrol hanya sebulan sekali, tapi karena sekarang kondisinya sedang drop maka oleh dokter dilakukan per dua minggu sekali untuk dipantau kondisi kesehatan ayah saya,” kata Maura.
Maura yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada jurusan Rekam Medis tahu betul bagaimana kondisi medis ayahnya yang menderita diabetes mellitus.
Sebisa mungkin ia menjaga pola makan ayahnya untuk menghindari makanan yang banyak mengandung glukosa.
“Selain mengandalkan rutin kontrol dokter dan dibantu obat, kami sekeluarga juga membantu menjaga pola makan ayah agar kondisinya tidak semakin memburuk,” ujar Maura.
Sejauh ini, Maura dan keluarga memang sangat menjaga kondisi kesehatan ayahnya sehingga dapat bertahan sehat sampai sekarang.
paham sekali bahwa penyakit diabetes mellitus dapat menyebabkan komplikasi lain, salah satunya yaitu gangguan penglihatan.
“Ayah juga terkena penyakit katarak pada mata kirinya, efek dari diabetes yang diderita. Awalnya matanya terasa mengganjal ketika melihat dan ada selaput yang menutupi. Yang tadinya ayah kemana-mana bisa menyetir mobil sendiri, akhirnya harus disetiri orang lain,” ujar Maura.
Untuk mengobati katarak sang ayah, dokter menyarankan untuk dilakukan operasi.
Namun pelaksanaan operasi juga perlu mempertimbangkan kondisi penyakit diabetes mellitus yang diderita ayahnya.
“Supaya bisa melihat kembali, ayah harus dioperasi. Awal pemeriksaannya dimulai dari dokter praktik mandiri kemudian mendapatkan rujukan ke rumah sakit untuk diperiksa oleh dokter spesialis mata. Namun karena gulanya sedang tinggi, operasi dilakukan dengan bius total. Setelah operasi pun ayah belum diperbolehkan pulang dan harus rawat inap selama tiga hari karena kondisinya yang belum membaik,” tutur Maura.
Meskipun demikian, Maura tetap bersyukur, selain karena sang ayah mendapatkan penanganan yang tepat, untuk biaya mulai dari pemeriksaan, tindakan operasi, rawat inap, obat sampai dengan kontrol rutin telah dijamin Program JKN. Bagi Maura, Program JKN sangat meringankan pengeluaran keluarganya.
“Sejauh ini karena ayah rutin kontrol dua minggu sekali, obat-obatannya juga banyak. Bahkan harus operasi katarak dan harus rawat inap. Kalau misalnya tidak dijamin JKN, saya tidak tahu habis berapa biayanya. Adanya Program JKN benar-benar sangat membantu mendapatkan layanan Kesehatan yang layak. Uang yang seharusnya dipakai untuk berobat bisa dialihkan untuk kebutuhan lain. Kami sangat bersyukur ada Program JKN,” tutup Maura.
Editor : Mahendra Aditya