Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tradisi Guyang Cekathak: Pelana Kuda Sunan Muria Dimandikan, Warga Padati Colo untuk Ngalap Berkah

Andika Trisna Saputra • Sabtu, 20 September 2025 | 00:27 WIB
SIRAM: Panitia dan pengurus YM2SM melakukan simbolis tabur cendol tradisi Guyang Cekathak di Sendang Rejoso, Jumat (19/9). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
SIRAM: Panitia dan pengurus YM2SM melakukan simbolis tabur cendol tradisi Guyang Cekathak di Sendang Rejoso, Jumat (19/9). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

DAWE – Warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, kembali menggelar tradisi guyang cekathak atau membasuh pelana kuda Sunan Muria pada Jumat (19/9).

Ritual yang dilaksanakan di kompleks Masjid dan Makam Sunan Muria ini berlangsung sejak pagi hari dan diikuti ratusan warga, pedagang, mahasiswa, hingga komunitas ojek.

Acara dimulai sekitar pukul 06.30 WIB di aula masjid dengan pembacaan tahlil yang dipimpin pengurus Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria.

Baca Juga: Dinsos Kudus Pastikan Pemulihan Psikologis Anak Korban Penusukan hingga Tuntas

Warga hadir membawa nasi berkat atau ambengan yang nantinya dinikmati bersama usai prosesi.

Suasana khidmat semakin terasa ketika lantunan doa dan shalawat menggema di area makam.

Setelah doa bersama, pelana kuda atau cekathak Sunan Muria diarak menuju Sendang Rejoso yang berjarak sekitar 500 meter.

Prosesi arak-arakan dipimpin oleh juru kunci dengan iringan shalawat dan tabuhan terbang papat.

Tradisi ini menggambarkan perjalanan Sunan Muria ketika membawa kudanya menuju mata air untuk dimandikan.

Setibanya di Sendang Rejoso, pelana kuda Sunan Muria dimandikan dengan air sendang sambil diiringi doa dan shalawat.

Prosesi ini diyakini sebagai bentuk ngalap berkah sekaligus melestarikan jejak perjuangan Sunan Muria dalam menyiarkan agama Islam di kawasan Gunung Muria.

Baca Juga: Pemkab Kudus Tanggap! Jalan Rusak di Pasuruhan Lor Ditambal Darurat, Perbaikan Permanen pada 2026

Setelahnya, juru kunci menaburkan cendol dawet ke udara sebagai simbol turunnya hujan, doa bersama pun dipanjatkan memohon keberkahan dan kesejahteraan.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, Mastur, menyampaikan bahwa tradisi tahun ini berjalan lancar meskipun sempat terkendala cuaca mendung.

“Alhamdulillah, antusias masyarakat meningkat. Ada pedagang, mahasiswa, perangkat desa, hingga masyarakat umum. Semua ikut larut dalam suasana kebersamaan,” ujarnya.

Mastur menjelaskan, tradisi guyang cekathak memiliki makna mendalam.

Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Kudus Jadi Pintu Data Bantuan Subsidi Upah

Guyang berarti memandikan, sedangkan cekathak adalah pelana kuda.

“Dulu Sunan Muria memandikan kuda di Sendang Rejoso yang juga menjadi tempat wudhunya. Kudanya memang sudah tidak ada, tapi pelana tetap kita mandikan sebagai simbol penghormatan. Tradisi ini menjadi pesan moral bagi generasi penerus untuk mengenang perjuangan beliau,” terangnya.

Rangkaian acara diakhiri dengan makan bersama ambengan yang dibawa warga dari rumah.

Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial masyarakat Colo.

“Saya hampir setiap tahun ikut bersama teman-teman. Rasanya adem, apalagi bisa ngalap berkah di tempat ini,” kata Anggun, salah satu peserta.

Guyang cekathak rutin digelar setiap Jumat Wage saat musim kemarau, sesuai hitungan kalender Jawa.

Selain sebagai wujud penghormatan kepada Sunan Muria, tradisi ini juga menjadi simbol doa meminta hujan serta ungkapan syukur masyarakat yang kehidupannya banyak bergantung pada berkah alam di sekitar Gunung Muria. (dik)

Editor : Mahendra Aditya
#ngalap berkah #colo kudus #guyang cekathak #sunan muria kudus #tradisi