Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Meriah! Tradisi Ampyang Maulid Kudus Libatkan Mahasiswa UIN Sunan Kudus

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 16 September 2025 | 18:35 WIB
Tradisi Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon, Kudus
Tradisi Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon, Kudus

KUDUS – Tradisi Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon, Kudus, kembali digelar meriah pada Minggu (7/9/2025) dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ribuan masyarakat tumpah ruah mengikuti rangkaian acara yang sarat nilai religi dan budaya, mulai dari kirab budaya, doa bersama, hingga pembagian ampyang dan gunungan hasil bumi.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, mengapresiasi kelestarian tradisi yang terus dijaga masyarakat setempat.

Menurutnya, Ampyang Maulid bukan hanya prosesi budaya, tetapi juga mengandung nilai keagamaan, kekeluargaan, sekaligus menjadi penggerak ekonomi dan pariwisata daerah.

Kemeriahan acara tahun ini juga diramaikan partisipasi mahasiswa UIN Sunan Kudus.

Mereka turut ambil peran dalam kirab budaya, termasuk memvisualisasikan prosesi Nganten Mubeng, tradisi masyarakat Loram Kulon yang menggambarkan pasangan pengantin baru mengelilingi area tertentu sebagai simbol doa dan harapan.

Fella Rezza Silviana, Koordinator Desa KKN UIN Sunan Kudus, menuturkan keterlibatan dalam tradisi Ampyang Maulid menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa.

“Kami berperan sebagai pemeran visualisasi tokoh dalam parade Festival Ampyang Maulid. Ini pengalaman penting ketika bisa langsung terjun di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Selain menjadi bagian dari kirab, mahasiswa juga menghadirkan ikon kuliner khas Loram Kulon seperti sego kepel dan botok, yang selalu melekat dalam perayaan Ampyang Maulid.

Emilia Putri, salah satu mahasiswa KKN, mendapat tugas membawa properti kuliner tersebut dalam arak-arakan.

Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LPPM UIN Sunan Kudus menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa yang aktif berkontribusi dalam acara ini.

Photo
Photo

Ia menegaskan, keterlibatan mahasiswa di masyarakat merupakan bentuk nyata pengabdian dengan mengamalkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki.

Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc., M.Si., juga memberikan apresiasi atas partisipasi mahasiswa dalam tradisi ini.

Ia menekankan bahwa kegiatan seperti Ampyang Maulid merupakan ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk menumbuhkan kesadaran sosial, sekaligus melestarikan budaya lokal.

“Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat. Tradisi seperti Ampyang Maulid menjadi sarana penting bagi mereka untuk mengamalkan nilai keislaman, kebudayaan, serta pengabdian,” ujarnya.

Ketua Panitia Kirab, Moh Abdul Rouf, menjelaskan bahwa tema Ampyang Maulid 2025 adalah “Kearifan Lokal.”

Potensi unggulan desa, khususnya hasil bumi, ditampilkan dalam arak-arakan sebagai simbol rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Nasi kepel dan ampyang adalah bentuk sodaqoh masyarakat Loram, sekaligus identitas tradisi kami,” ujarnya.

Puncak acara ditandai dengan pembagian gunungan hasil bumi, sego kepel, botok, serta jajanan ampyang. Ribuan masyarakat berebut berkah yang diyakini membawa kebaikan dan keberkahan bagi kehidupan sehari-hari.

Dengan perpaduan nilai keagamaan, kebersamaan, serta potensi wisata, tradisi Ampyang Maulid Loram Kulon tak hanya menjadi warisan leluhur, tetapi juga aset budaya yang terus hidup dan mengakar di tengah masyarakat Kudus. (*)

Editor : Ali Mustofa
#ampyang #masyarakat #uin sunan kudus #hasil bumi