Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ogoh-Ogoh Jadi Perdebatan di Festival Ampyang, Ini yang Disoalkan

Andika Trisna Saputra • Minggu, 14 September 2025 | 19:48 WIB
PERAYAAN: Masyarakat mengikuti kirab Festival Ampyang Maulid belum lama ini. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)
PERAYAAN: Masyarakat mengikuti kirab Festival Ampyang Maulid belum lama ini. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)

JATI – Festival Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, berlangsung meriah dengan kirab sepanjang dua kilometer.

Namun, kehadiran ogoh-ogoh yang dibawa sebagian peserta kembali memunculkan perdebatan di tengah masyarakat.

Ketua Panitia Festival, Muhammad Abdul Rouf, menuturkan sejak awal pihaknya berusaha menjaga agar tradisi Ampyang Maulid tetap kental dengan nuansa islami.

Baca Juga: DPRD Kudus Dorong Sinergi BUMDes Perkuat Pangan

Karena itu, ogoh-ogoh sebenarnya tidak diperkenankan ikut serta. 

“Kami sudah mengimbau agar tidak ada ogoh-ogoh, tetapi warga ingin menambah semarak acara. Jika dilarang sepenuhnya, kami khawatir menimbulkan ketidaknyamanan,” jelasnya saat ditemui.

Tahun ini, lebih dari sepuluh ogoh-ogoh turut serta dalam arak-arakan, sebagian berukuran besar.

Agar tidak mengganggu rombongan utama yang membawa tandu ampyang menuju masjid, panitia mengarahkan ogoh-ogoh ke sisi timur tugu depan Masjid Wali. 

“Yang jelas, ogoh-ogoh tidak boleh memasuki kawasan masjid. Itu sudah menjadi kesepakatan bersama,” tegas Rouf.

Perdebatan muncul karena Festival Ampyang Maulid sejatinya adalah media dakwah sekaligus pelestarian tradisi.

Sejak digiatkan kembali pada era Kiai Haji Hamzah Asnawi tahun 1996, kegiatan ini diawali dengan doa bersama dan makan ampyang di masjid.

Baca Juga: Bupati Kudus Gerak Cepat Bantu Rumah Ambrol Warga

Hal tersebut sebagai bentuk kebersamaan warga.

Meski demikian, warga terutama kalangan pemuda di tingkat RT tetap antusias membuat ogoh-ogoh untuk menambah daya tarik kirab.

Rouf mengakui, sekitar 30 persen peserta masih membawa ogoh-ogoh kreasi masing-masing. 

“Kami memahami semangat warga untuk meramaikan, namun ke depan kami berharap kreativitas itu bisa diarahkan ke karya yang bernuansa islami, agar sesuai dengan makna peringatan Maulid Nabi,” katanya. (dik)

Editor : Mahendra Aditya
#maulid nabi #tradisi #Kudus #ogoh ogoh #Festival Ampyang Maulid