KOTA – Stasiun Koedoes bukan sekadar peninggalan masa kolonial Belanda, tetapi juga menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Kudus mempertahankan kemerdekaan.
Sancaka Dwi Supani, pengamat sejarah Kudus, menyebut ada dua momen baku tembak yang pernah terjadi di lokasi tersebut, meninggalkan jejak kisah heroik hingga kini.
Kisah pertama terjadi pada Agresi Militer Belanda II tahun 1948.
Baca Juga: Bupati Kudus Copot Direktur Perusda Percetakan, Ada Apa?
Menurut penuturan almarhum Darsono yang diteruskan oleh Sancaka, pasukan sekutu yang masuk dari Semarang sempat tertahan di Jembatan Tanggulangin, Kudus.
Mereka dihadang truk komando Macan Putih Muria pimpinan Mayor Kusmanto.
Pertempuran sengit pecah di sana, mengakibatkan banyak pejuang gugur.
Sebagai tanda penghormatan, Tugu Juang ’45 dibangun di lokasi tersebut, sebelum kemudian dipindahkan dua kali karena pelebaran jalan.
Kini tugu tersebut berada di sebalah utara area Stasiun Koedoes.
Pertempuran berlanjut ke Stasiun Koedoes.
Tentara Belanda yang membonceng pasukan sekutu kembali terlibat kontak senjata dengan para pejuang lokal.
Baca Juga: DPRD Kudus Fokus Tekan Kemiskinan dan Inflasi Sesuai Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo
Bekas-bekas tembakan masih dapat dilihat di kaca bagian atas bangunan stasiun hingga kini.
“Saat itu kita kalah, tapi semangat melawan tetap menyala,” ujar Sancaka.
Momen baku tembak kedua di Stasiun Koedoes terjadi ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Kudus.
Penembakan kembali mewarnai suasana, memperkuat status stasiun ini sebagai titik panas perlawanan rakyat.
Baca Juga: Masih di Level Pratama, Kudus Siapkan Strategi Baru Biar Lolos KLA Madya
“Entah saat itu Pak Soekarno mau ke Surabaya atau gimana, kan jalurnya lewat Kudus. Kemudian di Stasiun Koedoes ditembaki,” imbuh Sancaka.
Dibangun Belanda sejak 1880, Stasiun Koedoes dulunya menjadi bagian dari rute Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), dilayani kereta uap yang menggunakan kayu bakar.
Dulu masyarakat menyebutnya Spoor Kluthuk.
Di Kudus, terdapat empat titik halte yaitu Jekulo, Ngembalrejo, Pentol, dan Pasar Jember.
Operasi stasiun berakhir pada 1976 seiring perkembangan transportasi mobil bak terbuka.
Selain bangunan utama, kompleks stasiun juga memiliki gudang penyimpanan lokomotif, peti kemas, dan rumah dinas masinis.
Juga terdapat deretan rumah orang Belanda yang kini menjadi ruko di Panjunan.
Kawasan Stasiun Koedoes dulunya ramai dengan pedagang yang berjualan hanya menggunakan kursi dan meja kecil.
Ia menambahkan, sejak 2005, bangunan Stasiun Koedoes resmi didaftarkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3).
Stasiun Koedoes sempat dialihfungsikan menjadi Pasar Johar hingga 2018, Stasiun Koedoes kini berdiri sebagai monumen sejarah.
Usianya yang lebih dari 50 tahun, nilai perjuangan yang terkandung, serta kisah heroik yang melekat menjadikannya salah satu situs penting di Kudus yang layak dilestarikan. (dik)
Editor : Mahendra Aditya