DAWE – Kopi bukan sekadar minuman, tetapi juga bagian dari budaya sekaligus penggerak ekonomi.
Potensi itulah yang diangkat dalam Sarasehan Budaya bertema kopi di Srawung Camp, Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus, Sabtu (9/8), bertepatan dengan gelaran Festival (Kenduri) Wiwit Kopi.
Anggota DPRD Jawa Tengah Komisi E, Arif Wahyudi, yang hadir sebagai pembicara, menegaskan bahwa kopi juga layak masuk dalam program ketahanan pangan provinsi.
Baca Juga: Tradisi Wiwit Kopi, Potensi Wisata Kudus di Lereng Muria
Ia mencontohkan keberhasilan kopi di Posong, Temanggung, yang awalnya ditanam untuk menahan erosi, lalu berkembang menjadi komoditas unggulan.
“Pada tahun 2009, pemerintah mulai menata tata niaga kopi di Posong dengan mewajibkan petani menjual biji secara terpilih, tidak boleh campur merah dan hijau, serta melarang penjualan ke tengkulak luar,” ujarnya.
Hasilnya, Posong kini dikenal sebagai penghasil kopi terbaik di Temanggung.
Arif berharap Kudus, khususnya kawasan lereng Muria, bisa menempuh jalur serupa.
“Kopi di lereng Muria adalah tanaman unggulan. Apa yang bisa saya perjuangkan melalui program dan kebijakan, akan saya upayakan. Minimal Kudus dan Jepara punya legasi yang nyata untuk petani kopi,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa di tingkat provinsi tersedia berbagai program gratis untuk meningkatkan SDM perkopian.
Mulai dari pelatihan barista, pemandu wisata kopi, kuliner kreatif, hingga pelatihan berbasis UMKM.
Baca Juga: Masjid Besar Darussalam Gondosari Kudus Jadi Pusat Pemberdayaan Umat, Ini Program Unggulannya
“Pelatihan barista ini berlangsung 30 hari, peserta mendapat uang harian dan perlengkapan seperti grinder dan alat seduh,” jelasnya.
Salah satu pemilik usaha kopi, Iwan Kurniawan atau Ucil, menambahkan bahwa Kudus memiliki komunitas Kudus Coffee Enthusiast yang fokus memperbanyak penikmat kopi.
Namun, ia mengungkapkan tantangan besar yaitu Kudus belum memiliki Master Coffee atau Q Grader profesional.
“Kalau bicara kopi spesialti, harus ada transparansi data dan harga. Untuk kopi Japan, saya berharap ada keterbukaan seperti itu,” katanya.
Baca Juga: Tukang Becak di Kudus Tewas Mendadak, Tiba-Tiba Ambruk dari Sadel, Begini Kronologinya
Bambang, petani kopi Desa Japan yang sudah 30 tahun menanam kopi, menyebut bahwa kegiatan ini menjadi ajang memperkuat budaya sekaligus ekonomi.
“Saya diajari ayah sejak kecil. Prospek kopi selalu bagus meski tahun ini sedikit turun. Menanam kopi sudah menjadi tradisi keluarga,” ujarnya.
Ketua Desa Wisata Japan sekaligus moderator sarasehan, Mutohar, menutup acara dengan harapan agar kopi Muria tidak hanya bertahan sebagai komoditas, tetapi juga berkembang sebagai identitas budaya dan sumber ekonomi warga lereng Muria. (dik)
Editor : Mahendra Aditya