DAWE – Musim panen kopi di Lereng Muria mulai menunjukkan geliatnya sejak Juli lalu.
Para petani di kawasan pegunungan yang membentang di tiga kabupaten, yaitu Jepara, Kudus, dan Pati, sudah mulai merasakan manisnya hasil panen tahun ini.
Namun, melimpahnya hasil belum sebanding dengan kenaikan harga jual di pasaran.
Baca Juga: Gudang Ampas Kopi Terbakar di Gondangmanis, Kudus, Berikut Ini Kronologinya
Salah satu sentra kopi Muria yang cukup menonjol berada di wilayah Kudus, khususnya Desa Colo, Kecamatan Dawe.
Kawasan ini telah dikenal sebagai penghasil kopi sejak era kolonial Belanda.
M Abdul Hamid Ridlo, petani sekaligus pelaku UMKM kopi di Desa Colo, mengungkapkan bahwa panen tahun ini memang lebih banyak dibanding sebelumnya.
"Panen kali ini melimpah, tapi harga kopi justru belum stabil. Masih naik turun karena panennya belum selesai," ujar Ridlo saat ditemui di rumah produksinya, Selasa (5/8).
Ridlo menjelaskan, harga kopi Muria petik merah saat ini berkisar antara Rp 85 ribu hingga Rp 90 ribu per kilogram.
Sementara kopi petik hijau atau campuran hanya dihargai sekitar Rp 67 ribu hingga Rp 70 ribu.
Angka ini menurutnya belum ideal, mengingat dua tahun lalu harga kopi petik merah bisa menembus lebih dari Rp 100 ribu per kilogram saat panen terbatas.
Baca Juga: Terbengkalai Bertahun-tahun, Puluhan Gamelan di Kudus Dibersihkan, Ini Alasannya
"Kondisi tahun lalu beda, panennya sedikit jadi harga bisa tinggi. Sekarang karena panen raya, harga jadi normal bahkan cenderung turun," terangnya.
Kendati demikian, Ridlo tetap menjaga kualitas hasil olahan kopinya.
Ia hanya menggunakan biji kopi petik merah untuk produksi roasted bean agar rasa dan aroma tetap unggul.
Menurutnya, kualitas rasa menjadi kunci utama untuk bisa bersaing di pasar, terlebih saat harga bahan baku cenderung lesu.
Baca Juga: Satpol PP Kudus Gerebek Penjual Miras di Jekulo, Ini Temuannya!
Melimpahnya hasil panen tahun ini juga dipengaruhi oleh kondisi iklim.
Ridlo menyebut cuaca kemarau basah sangat mendukung pertumbuhan tanaman kopi dan tanaman lereng gunung lainnya seperti parijotho.
Dalam sehari, ia bisa memetik 30–50 kilogram biji kopi, ditambah pasokan dari petani lain di desanya.
"Musim kemarau basah ini bagus untuk kopi, tanaman jadi subur dan buahnya lebat," jelasnya.
Tahun lalu, rumah produksi miliknya sanggup mengolah hingga 5–7 ton kopi.
Tahun ini, ia berharap capaian tersebut bisa dilampaui.
Namun lebih dari itu, ia ingin hasil panen yang berlimpah juga sebanding dengan peningkatan harga jual agar pelaku UMKM kopi bisa terus berkembang.
"Kalau harga bagus, petani dan pelaku usaha kopi pasti lebih semangat. Harapannya bisa jual dalam bentuk kemasan agar tetap awet pasca panen," katanya. (dik)
Editor : Mahendra Aditya