KUDUS – Sebuah pertunjukan teater bertajuk Jong Nusantara menghipnotis penonton yang memadati Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (16/7).
Karya garapan Jesy Segitiga ini bukan sekadar panggung seni, melainkan ruang refleksi kebangsaan, sebuah ajakan untuk merenungkan kembali semangat persatuan di tengah keberagaman.
Mengambil inspirasi dari organisasi-organisasi kepemudaan era pra-Sumpah Pemuda seperti Jong Java, Jong Celebes, dan Jong Ambon, pertunjukan ini menggambarkan Indonesia sebagai kapal besar yang memuat berbagai latar belakang budaya, agama, dan identitas, namun tetap harus berlayar menuju tujuan bersama.
Baca Juga: Wagub Taj Yasin: Ancaman Tarif Trump, Ekspor Rajungan Anjlok, Eropa Jadi Harapan Baru!
Metafora ini dihidupkan dengan penuh simbolisme surealis, dalam narasi yang kuat dan artistik.
Jesy Segitiga, sutradara Jong Nusantara, menjelaskan bahwa Jong Nusantara merupakan perlawanan terhadap homogenisasi budaya yang kerap mengaburkan jati diri bangsa.
“Kita butuh panggung yang bisa merayakan perbedaan, bukan menekannya. Ini bukan hanya tontonan, tapi tuntunan,” ujarnya.
Pertunjukan ini dipersiapkan dalam waktu satu semester oleh mahasiswa semester empat, yang mayoritas tidak memiliki latar belakang teater.
Tantangan terbesar justru muncul dari sini.
“Saya bilang ke mereka, kalian harus jadi seniman, meskipun ini bukan dunia kalian. Karena akan ditonton banyak orang. Saya ingin murah tapi berkualitas,” kata Jesy.
Sebagai karya surealis, Jong Nusantara menyatukan tradisi lokal, musik etnik, dan narasi sejarah dalam satu kesatuan yang padat makna.
Baca Juga: Kasus HIV Kudus Naik, KPA Soroti Peran Aplikasi Sesama Jenis yang Bebas Diakses Remaja
Di tengah fanatisme sempit dan fragmentasi sosial, pertunjukan ini menyuarakan pentingnya toleransi, empati, dan gotong royong.
“Semangat pemuda zaman dulu harusnya bisa jadi cermin hari ini. Jangan hanya pakai simbol nasionalisme, tapi lupa esensinya,” ujar Jesy.
Di akhir pertunjukan, penonton diajak merenungkan satu gagasan utama, bahwa kita semua berada dalam satu kapal bernama Indonesia.
Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirayakan sebagai kekuatan bersama.
Baca Juga: Ngeri! 6 Penderita HIV-AIDS di Kudus Meninggal, Ini Faktanya
Jong Nusantara pun tampil bukan hanya sebagai karya seni, melainkan sebagai kritik sosial yang elegan, tajam, namun tetap menyentuh hati.
Pembina Teater Jiwa, Kanzunnudin mengatakan memberi kebebasan mahasiswa untuk memilih tema yang akan dipentaskan. Terpenting, tidak mengandung unsur sara. Pementasan seperti ini sudah dimulai sejak tahun 2019.
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMK berkolaborasi dengan praktisi teater.
"Output dari mata kuliah seni pertunjukan harus pentas," katanya.
Ia menyebutkan sebanyak 34 mahasiswa dibagi dalam dua kelompok, masing-masing menampilkan pertunjukan berbeda.
Kelompok pertama telah membawakan Jong Nusantara pada Rabu (16/7), sedangkan kelompok kedua akan tampil Sabtu (18/7) dengan judul Obrol Owok-Owok Ebrek Ewek-Ewek yang disutradarai oleh Warih Bayu. (dik)
Editor : Ali Mustofa