KOTA – Meningkatnya kasus HIV/AIDS di kalangan dewasa, remaja, dan anak-anak di Kabupaten Kudus mengungkap fakta mencengangkan.
Aplikasi kencan sesama jenis menjadi salah satu pintu masuk perilaku seksual berisiko, bahkan menjangkau anak usia sekolah.
Manajer Penanggulangan Kasus HIV/AIDS Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kudus, Eni Mardiyanti, menyatakan bahwa aplikasi seperti Wala, Hornet, dan Grindr, yang secara khusus diperuntukkan bagi lelaki penyuka sesama jenis.
Baca Juga: Seru! Wakil Ketua DPRD Kudus Buka MPLS SD Muhammadiyah Birrul Walidain
Aplikasi-aplikasi tersebut menjadi wadah untuk berkenalan, janjian, bahkan transaksi seksual.
"Kalau bicara soal homoseks, tidak serta merta orang yang kencan di aplikasi langsung tertular HIV. Tapi yang jadi masalah adalah kesadaran mereka terhadap perilaku seks berisiko. Apakah mereka paham pentingnya kondom atau tidak?" ujarnya, belum lama ini.
Ia menjelaskan, pengguna aplikasi tersebut bisa langsung mengakses profil, nomor kontak, hingga membuat janji bertemu dengan sangat cepat.
"Mereka bisa langsung japrian, ada foto, ada tarif, dan bisa tentukan tempat eksekusinya lewat chatting," bebernya.
Yang lebih mengkhawatirkan, lanjut Eni, aplikasi-aplikasi tersebut tidak mengenal batasan usia.
Anak-anak pun bisa mengaksesnya tanpa filter.
"Saya pernah menangani kasus anak 14 tahun, kelas 2 SMP, yang sudah positif HIV. Mereka aktif di aplikasi semacam itu," ungkapnya prihatin.
Baca Juga: DPC Gerindra Kudus Panaskan Mesin Partai! Fokus Kawal Pupuk Subsidi, MBG, dan Koperasi Merah Putih
Sayangnya, KPA Kudus tidak memiliki kewenangan untuk memblokir atau menindak aplikasi-aplikasi tersebut.
Eni menekankan bahwa penanggulangan HIV/AIDS harus menjadi tanggung jawab bersama, termasuk pemerintah pusat dan para orang tua.
"Pengawasan orang tua sangat dibutuhkan. Jangan hanya awasi secara kasat mata, tapi juga periksa ponsel anak. Lihat aplikasi apa saja yang mereka unduh," tegasnya.
Ia juga mengimbau orang tua agar tidak tabu membicarakan seksualitas dan risiko penyakit menular dengan anak.
“Sekarang, alat kontrasepsi dan informasi seksual juga tersedia di aplikasi. Kalau bukan kita yang mendampingi, anak akan belajar dari tempat yang salah,” katanya. (dik)
Editor : Mahendra Aditya