KUDUS – Jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kudus masih didominasi oleh hubungan sesama jenis, khususnya lelaki seks dengan lelaki (LsL).
Ironisnya, meski dikenal sebagai Kota Santri, Kudus justru menjadi wilayah dengan jumlah hotspot LsL terbanyak se-Karesidenan Pati, bahkan mencapai ratusan titik.
Taman Balai Jagong menjadi lokasi dengan konsentrasi tertinggi komunitas tersebut.
Baca Juga: Transportasi Massal Lintas Kabupaten Segera Hadir, Kudus Jadi Pusatnya!
Manajer Penanggulangan Kasus HIV/AIDS Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kudus, Eni Mardiyanti, menyampaikan bahwa sejak pemetaan terakhir pada 2023, tepatnya usai pandemi Covid-19, ditemukan 187 titik kumpul komunitas LsL tersebar di sembilan kecamatan.
Jumlah ini melonjak drastis dibanding sebelum pandemi yang hanya berkisar 80 sampai 90 lokasi.
“Di tahun 2025 ini belum kami lakukan mapping ulang. Tapi data terakhir menunjukkan 187 titik. Lonjakan itu terjadi usai pandemi, ketika kami kembali melakukan pendataan,” ujar Eni saat ditemui di Kantor KPA Kudus belum lama ini.
Menurutnya, Kudus menjadi magnet bagi komunitas LsL dari daerah tetangga seperti Jepara, Pati, dan Demak.
Mereka kerap memilih Kudus sebagai lokasi berkumpul, sehingga memperbesar jumlah hotspot yang ada.
“Banyak komunitas LsL dari luar daerah yang juga kumpulnya di sini. Bisa dikatakan Kudus jadi pusat pertemuan komunitas LSL se-Karesidenan Pati,” imbuh Eni.
Dari keseluruhan hotspot yang terdata, kawasan pusat kota tetap menjadi titik terbanyak.
Dan Taman Balai Jagong, salah satu ruang publik populer di jantung kota Kudus, disebut sebagai area dengan jumlah titik berkumpul komunitas LsL paling banyak.
Tak hanya sudut taman, beberapa warung di sekitar lokasi juga menjadi tempat nongkrong mereka.
“Yang paling mencolok itu di Balai Jagong. Hampir tiap malam ada aktivitas kumpul-kumpul di sudut taman maupun warung-warung sekitar,” ungkapnya.
Eni menjelaskan, pertemuan komunitas LSL umumnya berlangsung pada malam hari dalam bentuk nongkrong kecil berisi empat hingga enam orang.
Baca Juga: Patut Berbangga, Kudus Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Peluncuran Jelajah Turats Nusantara PBNU
Lokasi berkumpul bergantung pada kelas sosial mereka.
Kaum LSL dari kalangan ekonomi atas cenderung memilih kafe, sementara dari strata bawah berkumpul di angkringan atau taman kota.
Terkait identifikasi hotspot, Eni menekankan pentingnya kehati-hatian.
Tidak semua pria yang duduk nongkrong bersama langsung bisa disebut bagian dari komunitas LSL.
Namun, dengan pengalaman pendampingan puluhan tahun, ia mengaku bisa mengenali tanda-tanda khusus dari perilaku dan bahasa tubuh mereka.
“Selain wajah-wajah yang familiar, komunitas LsL punya gestur dan gaya bicara khas. Mereka juga pakai bahasa sendiri, yang saya pun sudah sangat paham,” paparnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan perbedaan antara LsL dan transgender.
LsL tetap tampil sebagai laki-laki, namun memiliki ketertarikan seksual terhadap sesama jenis.
Dalam praktiknya, LsL terbagi menjadi dua peran yakni top (aktif) dan boty (pasif).
Baca Juga: Lima Pasar Tradisional di Kudus Masuk Prioritas Revitalisasi, Berikut Daftar dan Alokasi Anggarannya
Biasanya yang nongkrong di titik-titik hotspot merupakan yang boty, sedangkan yang top lebih sering melakukan pendekatan via aplikasi kencan atau pesan pribadi.
“Mereka janjian lewat WhatsApp atau aplikasi, lalu COD (cash on delivery) untuk berhubungan badan,” katanya. (dik)
Editor : Mahendra Aditya