DAWE – Prosesi tradisi salin luwur atau penggantian kain penutup Makam Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, berlangsung khidmat pada Jumat pagi (11/7).
Rangkaian kegiatan diawali sejak pukul 06.00 WIB dengan iring-iringan para pembawa luwur menuju area makam.
Ketua Panitia Salin Luwur, Muhdi, menjelaskan, barisan pertama dipimpin oleh juru kunci makam yang membawa dupa, diikuti oleh pendamping dengan bunga tabur.
Baca Juga: Inspektorat Kudus Turun Tangan! Usut Oknum ASN yang Diduga Ribut di Karaoke
Selanjutnya, rombongan pembawa kain luwur berjalan khusyuk menuju kompleks makam, mengawali prosesi sakral yang hanya boleh dihadiri oleh tokoh agama dan undangan.
“Pemasangan luwur dilakukan oleh para perewang khusus. Pengunjung umum belum diperkenankan masuk demi menjaga kekhusyukan prosesi,” ungkap Muhdi.
Saat luwur dipasang, suasana hening hanya diiringi lantunan Surat Yasin, tahlil, dan doa yang dibacakan bersama-sama hingga prosesi berakhir sekitar pukul 09.00 WIB.
Muhdi menambahkan, terdapat 12 lembar kain putih hasil jahitan tangan para perewang yang dipasang dalam tiga baris, meliputi bagian dalam, luar, dan nisan makam Sunan Muria.
“Kain-kain itu dibuat secara manual jauh hari sebelum hari H oleh para perewang,” katanya.
Setelah luwur terpasang, para undangan yang hadir berkumpul untuk menikmati berkat berupa nasi pincuk.
Momentum ini menjadi simbol kebersamaan dan syukur atas kelancaran prosesi yang menjadi bagian penting dalam budaya religius masyarakat setempat.
Baca Juga: Oknum Pejabat Kudus Viral, Diduga Mabuk dan Ribut di Karaoke, Bupati Beri Tanggapan!
Usai prosesi salin luwur, suasana makam kemudian kembali dipadati oleh para peziarah yang sebelumnya menunggu di luar.
Salah satunya, Dadang (54), peziarah asal Sukabumi, datang bersama rombongan sejak Kamis malam (10/7) untuk mengikuti pengajian umum yang juga merupakan bagian dari rangkaian Salin Luwur.
“Usai pengajian ada pembagian nasi pincuk, antrean panjang sejak semalam sampai parkiran depan gerbang atas, sekitar 200 meter. Tapi saya senang sekali bisa mengikuti tradisi ini,” ucapnya haru.
Ia juga mendapat nasi pincuk yang dibagikan kepada peziarah, sebagai simbol berkah.
Baca Juga: Alhamdulillah... Bantuan HKGS Rp 1 Juta Cair, Guru Swasta di Kudus Ceria
“Alhamdulillah, saya merasa bahagia dan mudah-mudahan hidup saya lebih berkah setelah mengikuti tradisi salin luwur ini,” tambahnya.
Tradisi buka luwur Sunan Muria tidak hanya menjadi warisan budaya lokal, tetapi juga magnet spiritual bagi ribuan peziarah dari berbagai daerah. (dik)
Editor : Mahendra Aditya