KUDUS – SMP 3 Dawe mendapatkan kucuran anggaran dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pemerintah pusat sebesar Rp 137 juta untuk pembangunan toilet inklusif atau ramah disabilitas tahun 2025.
Hal itu menyusul terdapatnya salah satu siswa di SMP 3 Dawe penyandang disabilitas. Murid tersebut mengalami lumpuh ringan di kedua kakinya, yang menyebabkan kesulitan bila mengakses toilet umum di sekolah setempat.
Kepala SMP 3 Dawe Abu Sofyan mengatakan, proses pencairan anggaran telah dilakukan. Dana tersebut langsung masuk ke rekening sekolah, tanpa melewati Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus.
“Rencana mulai pembangunan mungkin bisa bulan ini ata bulan depan, karena target Desember (2025) harus sudah selesai,” ujar Abu.
Rencananya, anggaran sebesar Rp 137 juta dai DAK tersebut akan dipergunakan untuk pembangunan toilet dengan total delapan pintu. Yang mana, dua pintu di antaranya akan dibuat toilet khusus ramah disabilitas.
“Jadi delapan pintu itu nanti dibagi untuk toilet siswa perempuan dan laki-laki. Lalu, dua pintu untuk ramah disabilitas yang nanti dipergunakan untuk satu toilet perempuan dan satu lagi untuk laki-laki,” terangnya.
Abu juga mengungkapkan bahwa selama ini, toilet yang ada di SMP 3 Dawe memang belum ramah disabilitas. Namun, karena mulai tahun lalu sekolah setempat menerima satu siswa difabel, maka inisiatif untuk pembangunan toilet inklusif pun diajukan.
“Jadi kami punya satu siswa difabel yang saat ini duduk di kelas VIII. Untuk mempermudah siswanya, kelasnya juga kita dekatkan yang mudah kalau mau ke toilet, atau yang mudah dijangkaunya,” tambahnya.
Selain meningkatkan fasilitas sekolah yang ramah disabilitas, Abu juga menyampaikan bahwa berbagai upaya untuk mencegah perundungan terhadap siswa di sekolah juga telah ditekan dengan baik. Termasuk terhadap siswa disabilitas tersebut.
Ia mengakui bahwa pada masa-masa awal masuk sekolah di kelas VII dahulu, siswa disabilitas tersebut sempat mendapatkan perundungan dari teman-temannya secara verbal. Tetapi, pihak sekolah menindaklanjuti hal tersebut dengan tegas.
“Sekarang sudah tidak ada (perundungan), edukasi terus kita berikan agar tidak ada perundungan, baik terhadap siswa itu (disabilitas) maupun ke siswa-siswa lainnya,” tandasnya. (san)
Editor : Mahendra Aditya