KUDUS – Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) membagikan bubur Asyura kepada masyarakat pada Sabtu (5/7), bertepatan dengan 9 Muharam.
Kegiatan ini merupakan bagian dari tradisi tahunan dalam rangkaian Buka Luwur Sunan Kudus.
Uniknya, pembagian bubur Asyura di Menara Kudus tidak dilakukan pada 10 Muharam seperti di banyak tempat lain, melainkan sehari lebih awal.
Baca Juga: PKL Bandel Digaruk! Sterilisasi Menara Kudus Jelang 10 Muharam
Hal ini karena pada 10 Muharam sudah terjadwal pembagian nasi berkat berbungkus daun jati yang berasal dari sedekah masyarakat dan dibagikan secara massal di kompleks makam.
Koordinator atau penanggung jawab dapur bubur Asyura, Muflichah Fatchan, menjelaskan bahwa bubur Asyura khas Menara Kudus memiliki ciri khas tersendiri, baik dari bahan maupun proses memasaknya.
“Kami menggunakan sembilan jenis bahan utama, yang melambangkan keberagaman rezeki dan nikmat Allah,” jelasnya.
Bahan utama tersebut meliputi beras, jagung, ketela pohon, ubi jalar, pisang, kacang kedelai, kacang hijau, kacang tanah, dan kacang tolo.
Semuanya dimasak dalam kawah besar selama sekitar tiga jam, lengkap dengan bumbu gulai, santan, daun pandan, serai, kayu manis, dan garam untuk menghasilkan cita rasa khas.
Setiap porsi bubur dilengkapi sembilan topping yang tak kalah istimewa.
Di antaranya adalah tempe goreng, tahu goreng, telur dadar iris, udang goreng, teri, tauge, cabai iris, jeruk bali, dan pentul, yaitu bola-bola kelapa muda dan daging giling khas Kudus.
“Tahun ini kami masak enam kawah. Satu kawah bisa jadi 170–200 porsi. Lima kawah dibagikan ke masyarakat, satu kawah untuk acara pembacaan Al-Barzanji,” ujar Muflichah.
Tradisi pembagian bubur Asyura ini telah berlangsung sejak lama dan dipercaya sebagai bentuk ittiba’ (meneladani) Nabi Nuh AS yang memasak bubur dari sisa bahan makanan di kapalnya setelah selamat dari banjir besar.
Kegiatan ini pun turut mempererat hubungan sosial warga sekitar.
Bubur hangat itu langsung dibagikan ke warga sekitar Menara Kudus, termasuk Desa Langgar Dalem, Damaran, Kajeksan, dan beberapa wilayah lainnya.
Baca Juga: Alumni PGAN Kudus Bernostalgia di Sekolahnya yang Telah Menjadi MAN 2 Kudus
Tak hanya sebagai sajian kuliner khas Muharam, pembagian bubur ini juga menjadi simbol kebersamaan dan keberkahan. (dik)
Editor : Ali Mustofa