Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Digelar di Auditorium UMK, Derita Guru Honorer Dipentaskan dalam Teater, Nasibnya Benar-benar Pilu!

Redaksi Radar Kudus • Sabtu, 5 Juli 2025 | 17:12 WIB

 

PERTUNJUKAN: Performance kelompok teater guru saat main teater di auditorium UMK kemarin.
PERTUNJUKAN: Performance kelompok teater guru saat main teater di auditorium UMK kemarin.
KUDUS – Kelompok Teater Guru Kudus sukses memikat perhatian penonton melalui pementasan bertajuk “Dilema di Titik Senja” yang digelar pada kemarin (3/7) di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK).

Teater ini mengisahkan Budi, seorang guru honorer yang hidup serba kekurangan bersama istri dan tiga anaknya di sebuah gubuk reyot.

Ia harus menghadapi kemiskinan, konflik rumah tangga, serta impian anak-anaknya yang sulit terwujud karena keterbatasan biaya: anak pertama ingin kuliah, anak kedua ingin mainan, sedangkan anak ketiganya menderita sakit berkepanjangan.

Ayah Budi menawarkan jalan pintas: meminta Budi keluar dari pekerjaannya dan mencalonkan diri sebagai Kepala Desa dengan modal uang dari sumber yang tidak halal. Budi menolak karena teguh pada prinsip kejujuran.

Keputusan ini justru memicu konflik dengan istri dan dua anaknya yang kecewa dengan pilihan Budi.

Di tengah gejolak batin dan pertengkaran keluarga, anak bungsu Budi yang sakit-sakitan, satu-satunya yang mendukung idealismenya akhirnya meninggal dunia, meninggalkan luka mendalam pada Budi yang tetap berpegang pada prinsip meski harus kehilangan segalanya.

Pementasan teater ini disutradarai oleh Eko Ari Wibowo dan ditulis oleh Siti Nur Hasisah. ”Konsepnya ya seumumnya teater gitu ya, menggambarkan seorang guru yang mengalami dilema antara idealismenya sebagai pendidik dan desakan keluarga untuk berpikir realistis,” kata Ahmad Sofya Edi, Koordinator MGMP Bahasa Indonesia Kudus.

Menurut Sofya, pentas ini sejatinya dirancang untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional 2025.

Namun, karena sejumlah kendala teknis, pelaksanaannya baru bisa digelar pada 3 Juli 2025.

Proses persiapannya sendiri berlangsung selama dua hingga tiga bulan, melibatkan guru-guru Bahasa Indonesia dari berbagai SMP di Kudus serta siswa-siswa yang pernah lolos dalam festival teater tingkat daerah.

”Saya ingin guru-guru punya kompetensi lain, dalam hal ini teater. Karena ternyata teater itu banyak sekali manfaatnya,” tambah Sofya.

Pertunjukan tersebut juga mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, yang hadir langsung menyaksikan.

”Pertunjukan ini sangat luar biasa, menyentuh kehidupan sosial yang nyata. Saya mendapatkan pelajaran tentang pentingnya keteguhan hati dan pengabdian seorang guru kepada bangsa,” ujarnya penuh antusias.

Sam’ani menyatakan dukungannya terhadap pengembangan seni teater di lingkungan sekolah.

Ia bahkan membuka peluang bagi para pelaku seni untuk menampilkan karya-karyanya di pendapa kabupaten.

”Potensi teater sekolah di Kudus sangat luar biasa. Pendapa terbuka untuk siapa pun yang ingin menampilkan karya teater. Ini penting, karena seni dan budaya membawa pesan moral yang kuat,” tandasnya. (indah Susanti)

 

Editor : Ali Mustofa
#Idealisme #gubuk reyot #guru honorer #kemiskinan #teater