Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

FOMO dan Gaya Hidup Murah Meriah, Kopi Jalanan Makin Digandrungi Gen Z

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 3 Juli 2025 | 21:51 WIB
Street kopi: suasana malam ramai pengunjung di kopi Warisan Bapak, kawasan Jl. Sudirman, sebelah barat pasar kliwon (Dimas Labib/RADAR KUDUS)
Street kopi: suasana malam ramai pengunjung di kopi Warisan Bapak, kawasan Jl. Sudirman, sebelah barat pasar kliwon (Dimas Labib/RADAR KUDUS)

RADAR KUDUS – Malam hari di ruas Jalan Jenderal Sudirman Kudus kini berubah wajah.

Lampu gantung sederhana dan deretan kursi lipat di pinggir trotoar menjadi saksi bahwa kopi jalanan bukan sekadar tren sementara.

Di sinilah anak-anak muda Gen Z dan milenial berkumpul, menyeruput kopi susu murah, bercengkerama, dan kadang hanya duduk menikmati malam.

“Kalau dulu nongkrong ya pasti ke coffee shop. Tapi sekarang lebih asik di kopi jalanan, rame, nggak kaku, dan vibes-nya lebih dapet,” ujar Sidqi (22), mahasiswa yang hampir tiap pekan nongkrong di sana.

Fenomena ini mulai menggeliat sejak akhir 2024 dan mencapai puncaknya saat Idulfitri 2025.

Harga murah, rasa kopi yang bersaing, dan kebebasan suasana membuat kopi jalanan cepat merangkul pengunjung.

Tak perlu dandan berlebihan, tak ada kewajiban membeli menu mahal, tapi tetap bisa eksis.

Beberapa pengunjung mengaku awalnya datang karena FOMO takut ketinggalan tren yang ramai di media sosial.

Namun setelah mencoba, mereka merasa suasana kopi jalanan menawarkan kenyamanan yang tidak selalu bisa didapat di kafe modern.

“Di sini kita bisa nongkrong dari jam 8 sampai tengah malam, ngobrol sepuasnya tanpa diusir. Dan tetap bisa upload story kayak di kafe,” tambah Sidqi.

Dari sisi lokasi, kopi jalanan memang menyasar titik-titik strategis, seperti Jalan Sudirman arah perempatan Pentol lokasi yang relatif aman dari penertiban karena sudah mengantongi izin pemilik lahan.

Waktu operasionalnya pun fleksibel, umumnya mulai pukul 19.30 hingga dini hari, dengan puncak keramaian sekitar jam 22.00.

Menu favorit tetap kopi susu, dengan rata-rata penjualan belasan hingga puluhan cup per malam. Saat ada event atau malam minggu, angka ini bisa melonjak drastis.

“Pernah sampai 80 cup terjual dalam satu malam. Apalagi kalau ada acara di sekitar alun-alun,” kata Deni, salah satu penjual kopi jalanan yang juga masih aktif kuliah.

Kopi jalanan tidak hanya menjual minuman, tapi juga ruang sosial. Di sinilah komunitas tumbuh, ide mengalir, dan interaksi lintas latar belakang terjadi.

Di tengah mahalnya gaya hidup urban, kopi jalanan memberi opsi yang lebih membumi.

Namun sebagian pelaku usaha tetap realistis. Mereka menyadari bahwa tren ini bisa jadi hanya sesaat, tergantung musim dan cuaca.

Tapi selagi ramai, mereka berkomitmen menjaga kualitas rasa dan suasana agar tetap jadi tempat kembali. (Labib Azka)

Editor : Ali Mustofa
#fomo #kopi jalanan #Kudus #street coffe