Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Berikut Sejumlah Petilasan di Rahtawu Kudus yang Disakralkan Peziarah saat Malam 1 Suro

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 27 Juni 2025 | 17:52 WIB
NGALAP BERKAH: Sejumlah peziarah terlihat sedang menunggu waktu untuk ritual di petilasan Eyang Sakri di Desa Rahtawu, Gebog, Kudus, tadi malam.
NGALAP BERKAH: Sejumlah peziarah terlihat sedang menunggu waktu untuk ritual di petilasan Eyang Sakri di Desa Rahtawu, Gebog, Kudus, tadi malam.

KUDUS – Ribuan peziarah memadati Kawasan Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, saat malam 1 suro, yang dianggap sakral bagi sebagian wong Jowo.

Mereka tumplek-blek memadati beberapa petilasan yang berada di Lereng Muria ini. Kebanyakan peziarah berdoa di petilasan Eyang Sakri untuk ngalap berkah.

Sekretaris Desa Rahtawu Agung Darmono menyampaikan, pihak desa telah menyiapkan sejumlah langkah strategis menyambut kedatangan peziarah secara aman dan tertib.

”Kami bentuk panitia sejak jauh-jauh hari. Bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti polsek, koramil, linmas, banser, dan karang taruna,” ujarnya.

Setiap petilasan, khususnya Eyang Sakri yang menjadi pusat ritual malam 1 Suro, ditempatkan petugas untuk membantu pengaturan arus peziarah serta menjaga keamanan dan kenyamanan selama prosesi berlangsung.

Pemdes Rahtawu berharap, kawasan petilasan Eyang Sa kri semakin dikenal luas se bagai destinasi spiritual yang nyaman dan tertata.

”Semoga jumlah peziarah makin meningkat, sehingga nama Rahtawu sebagai desa wisata religi makin dikenal. Itu harapan besar kami,” katanya.

Di Desa Rahtawu sendiri, ada lebih dari 10 petilasan yang disakralkan.

Di antaranya petilasan Eyang Sakri, Eyang Abiyoso, Gajahmodo, Loko Joyo, dan Jogowongso.

Namun, dari semua tempat itu, Eyang Sakri menjadi petilasan yang paling ramai.

”Paling ramai ya Eyang Sakri. Itu yang paling disepuhkan,” jelas Agung.

Ritual yang dijalankan peziarah di petilasan itu, didominasi kegiatan berdoa dan mandi di sungai dekat petilasan Eyang Sakri.

Diyakini sebagai bentuk pensucian diri dan mencari berkah. Para peziarah biasanya mulai berdatangan sore hari.

Lalu menunggu hingga tengah malam untuk mandi di sungai.

”Jam 12 malam itu biasanya mereka (peziarah, Red) mandi. Setelahnya berdoa lagi. Lalu pulang,” tuturnya.

Air yang digunakan merupakan sumber alami tanpa campuran apapun.

Namun, beberapa peziarah ada yang membawa sesajen, seperti bunga, dupa, atau kemenyan sebagai bagian dari ritual doa masing-masing.

”Itu tergantung kepercayaan masing-masing. Ada yang bawa dupa, ada yang tidak,” katanya.

Pengunjung tidak hanya datang dari Kudus, tetapi juga dari daerah sekitar seperti Jepara, Demak, Pati, bahkan ada yang berasal dari Semarang dan Jakarta.

Beberapa datang secara rombongan, tapi tak sedikit pula yang datang secara pribadi.

”Kalau malam 1 Suro total peziarah bisa sampai 5.000 orang. Khusus di Eyang Sakri sekitar 500-an,” ungkapnya.

Meski menjadi salah satu destinasi spiritual favorit, petilasan ini tidak memungut biaya masuk.

Warga hanya menyediakan kotak kas sukarela sebagai bentuk partisipasi dan dukungan bagi perawatan lokasi.

”Kas itu untuk perawatan petilasan,” imbuh Agung. (Andika Trisna Saputra)

Editor : Ali Mustofa
#petilasan #wisata religi #rahtawu #Kudus #peziarah