Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Walking Tour Jejak Kereta Api di Kota Kudus, Tenyata Dibangun oleh SJS Tahun 1884

Redaksi Radar Kudus • Senin, 23 Juni 2025 | 17:44 WIB

 

PERJALANAN EDUKATIF STASIUN WERGU: Komunitas Lelana dan Cerita Kudus Tuwa walking tour jejak kereta api di Kudus pada Minggu (22/6).
PERJALANAN EDUKATIF STASIUN WERGU: Komunitas Lelana dan Cerita Kudus Tuwa walking tour jejak kereta api di Kudus pada Minggu (22/6).

KOTA – Walking tour yang diinisiasi Cerita Kudus Tua menyisir rel kereta api di Kudus.

Sejarah perkeretaapian di Kudus berawal dari Stasiun Kudus yang kali pertama beroperasi pada tahun 1884.

Stasiun ini diinisiasi oleh perusahaan Semarang-Joana Stroomtam Maatschappij (SJS) dan berlokasi strategis di dekat Pasar Kliwon, yang kini menjadi bagian dari Jalan Jenderal Sudirman.

Story Teller dari Cerita Kudus Tuwa Nova David Ariyanto mengatakan, pembangunan itu dilakukan dengan alasan yang sangat logis.

Pada saat itu, pasar merupakan lokasi strategis dan pusat kehidupan ekonomi.

”Mendekatkan stasiun dengan pasar berarti mendekatkan calon penumpang dengan pedagang. Pasar Kliwon juga merupakan tempat strategis jadi lebih ideal untuk simpul transportasi,” terangnya, kemarin (22/6).

Tujuannya jelas untuk menyambung simpul dari jantung kota di daerah tersebut.

Kereta yang beroperasi adalah berupa trem uap (lokomotif kecil). Terdapat dua arah jalur utama di Stasiun Kudus yakni arah Demak dan Pati.

Stasiun ini menjadi bagian jaringan trem yang dibangun oleh SJS di wilayah timur pantai utara Jawa.

Trem uap menjadi moda transportasi yang mudah dan murah, kecepatannya hanya 15 kilometer per jam, cocok untuk menjangkau kota kecil dan kawasan urban.

Lebih lanjut, Nova mengatakan jalur pertama yang dibangun sepanjang 26,4 kilometer selesai pada 18 Maret 1884.

Jalur itu memanjang dari Kabupaten Demak hingga Kudus.

Trem uap Kudus, dibangun bersandingan dengan Jalan raya dari Tanggulangin lalu ke Alun-alun Kudus kemudian ke arah timur melalui Jalan Jenderal Sudirman menuju Pati.

”Ada halte-halte kecil yang didirikan untuk menunjang operasional, seperti halte di Tanggulangin, Alun-Alun, Bendo Kerep, Bareng, dan Klaling. Tarif untuk satu kilometernya yakni 0,6 sen saat itu,” terangnya.

Selain mengangkut manusia, trem ini juga mengangkut gula, tembakau, cengkeh, sigaret, hingga beras.

Hal ini membuat Kudus menjadi kota yang lebih hidup dan bergerak meski sekarang hanya tinggal sejarahnya yang menggaung.

Salah satu peserta Dyah Ayu mengatakan, ikut walking tour ini kali pertama dan banyak yang tidak tahu tentang kereta api di Kudus.

Rute mulai dari Pasar Kliwon, kemudian menuju penthol Kudus, sampai ke Kelurahan Wergu Wetan.

”Ya ditunjukin perlintasan yang dulunya titik palang pintu dan sampai ke eks Stasiun Kudus. Ada dua bangunan bekas un tuk membeli tiket, pokoknya seru,” jelasnya. (Indah Susanti)

Editor : Ali Mustofa
#kereta api #perkeretaapian #walking tour #Kudus #lokomotif