KUDUS - Tak diragukan lagi, olahraga lari yang relatif mudah dan murah bisa memberikan beragam manfaat sehat seperti mengurangi risiko sakit jantung, mencegah osteoporosis dan radang sendi, menguatkan otot kaki, serta menurunkan berat badan.
Olahraga inilah yang klik dihati Dokter Spesialis Anak Arif Faiza di RSUD dr. Loekmono Hadi. Ia bercerita, sebelumnya ia termasuk orang yang tidak suka olahraga, hanya pada waktu sekolah yang mewajibkannya olahraga.
Seiring berjalan waktu dan usia semakin bertambah, di usia 34 tahun dokter Arif sudah merasakan badannya tidak baik-baik saja.
Setiap kali cek kesehatan, kolesterol naik, menambah lingkar perut, nadi deyut jantung meningkat, mulai kencang-kencang di leher dan otot, performa sebagai dokter kalau sering seperti itu termasuk kurang bagus.
Selain itu, dipicu dengan profesinya sebagai dokter spesialis yang harus siap 24 jam jika ada kontak yang masuk untuk menolong pasiennya. Sehingga, waktu istirahat dan pola tidurnya tidak teratur.
”Jadi, kalau saya biarkan tidak diimbangi dengan olahraga maka bisa sakit tubuh ini. Maka saya putuskan mulai olahraga yang ringan, mudah dan santai. Ya harapan hidup kan balance ya, ada istirahat, ada kerjanya, ada olahraganya, ada ngajinya. Jadi untuk olahraganya saya pilih lari,” ungkapnya
Dokter Arif memilih lari itu untuk dapat keringat atau kebugaran itu tidak butuh waktu yang lama. Awal-awal olahraga lari waktunya 20 menit hingga 30 menit. Itupun jalan kemudian lari begitu terus.
”Itu sudah lumayan dapat keringat. Kemudian, 45 menit sudah bisa membakar kalori. Kesiapnnya lebih simple. Awal-awal saya tidak mengenal outfit lari, ya saya pakai baju olahraga biasa yang kombor gitu, kemudian cari sepatu buat lari, saya pakai kok lecet-lecet, ternyata sepatu yang saya pakai buat tennis,” kata dokter Arif.
Ia tidak hanya sekadar lari, tapi juga mengenak outfit yang dipakai. Waktu ia ikut Borobudur Maraton tahun 2019 dengan jarak 42,195 kilometer dan waktu yang berhasil ditempuh enam jam 45 menit, outfit yang ia gunakan pakai celana trening dan ternyata lecet-lecet, termasuk sepatu disesuaikan dengan bentuk kaki.
”Kalau mau ikut event harus dipersiapkan nutrisinya. Kali pertama ikut marathon saya lari dan sambung jalan kaki, padahal eventnya full lari,” jelasnya.
Kemudian, tahun 2024 Dokter Arif ikut lagi event Marathon di Bandung dan berhasil menyelesaikan waktu empat jam 33 menit.
Kali ini ia bisa menyelesaikan dengan full lari dan out fit yang digunakan sudah sesuai untuk lari.
”Berarti saya butuh waktu lima tahun untuk bisa memperbaiki waktu,” jelasnya.
Dokter Arif, mengatakan karena bukan atlet berbagi pengalamannya saat awal-awal lari. Tidak memaksakan kehendak harus bisa lari full.
Tubuh itu ada alarm otomatis, apabila detak jantung berdetak kencang, harus berhenti.
Kemudian, lari itu bisa disambi ngobrol. Santai saja, jangan dipaksakan lari full. Bisa dengan jalan kaki lebih dulu, kemudian sedikit lari.
Nanti, lama-lama akan bisa lari full. Dokter Arif sekarang ini bisa mencapai jarak 20 kilometer hingga 22 kilometer dengan tempuh waktu satu jam.
”Kalau tidak week end spot lari favorid itu di Balai Jagong. Bangun pagi habis salat subuh dan ngaji, lalu lari sebentar. Kemudian, pulang mandi lanjut praktik di rumah dan lanjut ke rumah sakit.
Alhammdulillah, badan yang saya rasakan fresh, segar. Saya pilih lari itu untuk sehat dan bulan September nanti saya ikut Berlin Marathon, ya semoga bisa memperbaiki waktu tempuh,” terangnya. (san)
Editor : Mahendra Aditya