Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Upaya Angkat Potensi Destinasi Wisata, Ekskavasi Arkeologi di Situs Patiayam Kudus Dimulai

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 13 Juni 2025 | 17:30 WIB

 

BALUNG BUTO: Eksplorasi fosil gajah purba Elephas yang dilakukan oleh sejumlah tim yang berkolaborasi seperti YDBL, CPAS, PR ALMBB BRIN, dan lainnya di Situs Patiayam, Desa Terban, Jekulo, Kudus.
BALUNG BUTO: Eksplorasi fosil gajah purba Elephas yang dilakukan oleh sejumlah tim yang berkolaborasi seperti YDBL, CPAS, PR ALMBB BRIN, dan lainnya di Situs Patiayam, Desa Terban, Jekulo, Kudus.

KUDUS – Ekskavasi arkeologi di Situs Patiayam, tepatnya di Bukit Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, resmi dimulai sejak Selasa (10/6) lalu.

Penggalian ini, bukan sekadar kegiatan ilmiah, melainkan bagian dari upaya lebih besar untuk mengangkat potensi kawasan sebagai destinasi wisata minat khusus dan mendukung penetapan statusnya sebagai situs cagar budaya.

Di balik keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini, sosok Lestari Moerdijat atau yang akrab disapa Rerie yang merupakan wakil ketua MPR RI memainkan peran penting sebagai sponsor dan fasilitator utama.

Kegiatan ini, merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Dharma Bakti Lestari (YDBL) yang didukung Rerie, Center for Prehistory and Archaeology Studies (CPAS).

Serta PR ALMBB BRIN (Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan Badan Riset dan Inovasi Nasional).

Pendanaan, fasilitas birokrasi, hingga akses lahan Perhutani, semuanya tak lepas dari peran krusial Rerie dalam membuka jalan bagi kelancaran eksplorasi.

”Situs Patiayam ini punya nilai sejarah dan ilmiah yang tinggi. Tapi untuk menjadikannya cagar budaya, kita perlu data empiris yang kuat. Di sinilah pentingnya kerja sama riset ini,” ujar Ruly Fauzi, peneliti arkeologi dari BRIN sekaligus CPAS.

Dia menjelaskan, kawasan Patiayam berada dalam formasi geologis Selumprit yang kaya fosil.

”Yang menarik di sini, kita temukan sebaran tulang-tulang gajah purba yang tampaknya berasal dari satu individu utuh. Ini sangat jarang terjadi,” ungkapnya.

Gajah yang dimaksud termasuk jenis Elephas, lebih muda dari Stegodon, dan diperkirakan hidup sekitar 300.000 tahun lalu.

Temuan ini meliputi bagian tulang lengan, tulang belakang, gigi atas dan bawah, bahkan indikasi awal adanya gading, meski masih dalam tahap penggalian hati-hati. Ini merupakan kelanjutan dari tahun lalu.

”Saat ini kami baru memeroleh sekitar 15–20 persen dari bagian tubuh gajah tersebut. Tapi pola sebaran tulangnya cukup dekat satu sama lain, mengindikasikan bahwa ini satu individu yang utuh, bukan tercecer,” imbuh Ruly.

Kegiatan ini, juga menjadi bagian dari praktikum lapangan mahasiswa Universitas Indonesia (UI), khususnya dari Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

Total ada 85 peserta terlibat. Terdiri dari 70 mahasiswa, 10 senior, lima dosen, dan dipimpin oleh R. Cecep Eka Permana sebagai penanggung jawab mata kuliah.

”Di sini kami (Patiayam, Red) tidak hanya melatih teknis ekskavasi. Mahasiswa dilatih presentasi, membuat laporan, dan setiap malam mendiskusikan hasil harian. Ini bukan hanya praktikum, tapi proses pembentukan arkeolog masa depan,” terang Cecep.

Mereka dibagi ke dalam 12 kelompok. Masing-masing terdiri dari lima sampai orang yang bertugas mengukur kontur, membuat kotak gali, hingga mendokumentasikan setiap temuan.

Selain teori yang telah mereka pelajari di kampus, termasuk latihan pada situs simulasi arkeologi, mereka juga belajar langsung dari para peneliti senior BRIN yang sedang melakukan eksplorasi yang hanya berjarak sekitar 500 meter.

Ia menambahkan, eksplorasi ilmu pengetahuan seperti ini perlu terus didukung.

”Riset seperti ini tidak hanya membuka jendela masa lalu, tapi juga membuka peluang masa depan. Baik dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, hingga pengembangan wisata berbasis konservasi,” ujarnya.

Tenaga ahli arkeologi dari UGM Dama Qory Arjanto menegaskan pentingnya situs Patiayam dalam konteks sejarah Jawa.

”Ini salah satu situs dari masa Pleistosen yang sejajar dengan Sangiran di Sragen, Semedo di Tegal, dan Bumiayu di Brebes. Bahkan, dulunya Patiayam kemungkinan terpisah dari Pulau Jawa. Jadi temuan di sini sangat signifikan,” jelasnya saat dijumpai di situs Patiayam kemarin.

Ia menambahkan, Elephas yang ditemukan di Patiayam sering juga dijumpai di Jawa. Termasuk di aliran Bengawan Solo hingga Mojokerto.

”Temuan ini menunjukkan bahwa daratan di sini dahulu dihuni berbagai jenis vertebrata, termasuk kemungkinan manusia purba," katanya.

Dengan penggalian yang masih berlangsung hingga 22 Juni mendatang, para peneliti berharap bisa memperluas temuan, melengkapi elemen-elemen tulang gajah yang belum tergali, serta merekonstruksi posisi anatomisnya secara ilmiah.

Rencana jangka panjangnya, akan dibuat replika tulang-tulang skala 1:1, sehingga pengunjung bisa menyaksikan sendiri temuan asli di lokasi penemuan.

Juga membuka kemungkinan besar bagi lahirnya museum situs di Patiayam. (Andika Trisna Saputra)

Editor : Ali Mustofa
#Lestari Moerdijat #destinasi wisata #BRIN #situs patiayam #arkeologi #Kudus #gajah purba