KUDUS – Tidak hanya sekadar ritual tahunan, pelaksanaan Shalat Idul Adha 1446 H oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kudus pada Jumat, (6/6), menjadi media dakwah dan pelayanan sosial keagamaan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Dengan menggelar salat di 37 titik di berbagai wilayah, Muhammadiyah Kudus menggandeng ratusan kader, takmir masjid, dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama menyemarakkan Idul Adha.
Kegiatan ini tidak hanya memfasilitasi umat Islam menjalankan ibadah sesuai dengan penetapan kalender Hijriah oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, tetapi juga menghadirkan pesan kebersamaan, pengorbanan, dan kepedulian sosial.
“Pelaksanaan Shalat Idul Adha ini bukan hanya rutinitas tahunan, tapi juga bentuk dakwah dan pelayanan kepada umat. Muhammadiyah hadir untuk mendekatkan nilai-nilai Islam yang mencerahkan, membumikan semangat pengorbanan dan kepedulian sosial,” ujar Zulfa Kurniawan, Sekretaris PDM Kudus, Selasa (3/6).
Dari pusat kota hingga desa-desa pelosok, titik pelaksanaan shalat tersebar merata. Di antaranya seperti GOR Wergu Wetan yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh PDM, salat Idul Adha akan dipimpin oleh imam dan khotib Abdul Wahid.
Sedangkan di halaman Swalayan ADA dikoordinasi oleh PCM Kota, Mas’adi menjadi imam dengan khotbah oleh Abdlilah Faiz.
Tak hanya di pusat keramaian, Salat Id juga digelar di halaman sekolah, lapangan desa, hingga area parkir pondok pesantren. Seperti di halaman Masjid Al Islam Tuwang dan halaman SD Muhammadiyah Ploso.
Di lokasi ini, para imam dan khotib seperti Khoirul Huda, dan Zul Arin, diharapkan mampu menyampaikan pesan keislaman yang membumi dan menggugah.
Di wilayah pedesaan seperti Klumpit, Jurang, dan Getassrabi, warga bersama PRM (Pimpinan Ranting Muhammadiyah) setempat berinisiatif menyelenggarakan salat di lapangan desa, menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk merayakan Idul Adha bersama.
Di Jurang, misalnya, pelaksanaan shalat di dua titik bahkan melibatkan tokoh sekaligus imam dan khotib seperti Abdul Maulana, dan Mutakalim.
Model desentralisasi pelaksanaan ini mencerminkan filosofi dakwah Muhammadiyah, yaitu menjangkau sebanyak mungkin kalangan masyarakat, memudahkan akses ibadah, serta menyebarluaskan pesan-pesan Islam secara inklusif.
“Mari jadikan momentum Idul Adha ini sebagai sarana pengokohan ukhuwah Islamiyah dan kepedulian sosial terhadap sesama,” ajak Zulfa. (dik)
Editor : Zainal Abidin RK