KUDUS – Tradisi Nyadran atau ritual doa bagi leluhur menjelang Ramadan membawa berkah bagi pedagang bunga di kawasan Proliman Kaliputu, Kudus.
Pada Jumat (28/2), lonjakan pembeli terlihat signifikan dibanding hari biasa, membuat omzet penjual naik drastis.
Sejak pagi, kawasan tersebut dipadati warga yang berburu bunga tabur.
Kondisi lalu lintas pun cukup padat, sehingga aparat kepolisian turun tangan mengatur arus kendaraan agar tetap lancar. Meski ramai, suasana tetap tertib dan kondusif.
Puncak Penjualan Jelang Ramadan
Para pedagang bunga di sepanjang jalan Proliman Kaliputu mengaku penjualan mereka meningkat tajam selama dua pekan terakhir.
Mereka membuka lapak sejak pukul 05.00 WIB hingga 21.00 WIB untuk melayani ratusan pembeli yang datang silih berganti.
Berbagai jenis bunga seperti mawar, kenanga, krisan, gading, dan pandan tersedia dalam berbagai kemasan, mulai dari plastik kecil hingga buket besar.
Para pembeli juga bisa memilih dan meracik sendiri isian bunga sesuai kebutuhan.
Fisky Ratna Elly, salah satu pembeli, mengaku membeli empat bungkus bunga berisi daun pandan, bunga kenanga, dan mawar.
Ia sudah menjadi pelanggan tetap di kawasan tersebut. “Biasanya saya beli setiap Kamis untuk ziarah, tapi kali ini khusus untuk Nyadran. Ada titipan juga, jadi beli lebih banyak,” ujarnya.
Omzet Naik Lebih dari 50 Persen
Tak hanya pedagang, lonjakan pembeli juga berdampak pada meningkatnya aktivitas para tukang parkir.
Siswanto, salah satu tukang parkir di lokasi tersebut, menyebut jumlah kendaraan yang datang meningkat drastis dibanding hari biasa.
“Sejak pagi hingga siang, sekitar seribu motor parkir di sini. Kalau ada tradisi seperti ini memang selalu ramai. Kami harus ekstra waspada agar tidak terjadi kemacetan,” jelasnya.
Inzarotin, karyawan salah satu toko bunga di Proliman, mengungkapkan bahwa penjualan meningkat lebih dari 50 persen selama musim Nyadran.
“Biasanya omzet harian sekitar Rp5 juta, tapi dalam beberapa hari terakhir meningkat tajam. Bahkan kemarin (27/2) menjadi hari tersibuk kami.
Harga bunga bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp70.000, tergantung jenis dan kemasannya,” terangnya.
Karena tingginya permintaan, jumlah pekerja di beberapa toko bunga pun ditambah. Biasanya hanya ada dua karyawan, namun saat musim Nyadran, jumlahnya bertambah hingga enam orang.
“Setiap hari kami melayani ratusan pembeli. Meskipun sibuk, kami bersyukur karena omzet terus meningkat setiap tahunnya,” tambah Inzarotin.
Pedagang bunga berharap tradisi Nyadran tetap lestari karena menjadi momen penting yang menghidupkan perekonomian masyarakat sekitar.
“Semoga setiap tahun penjualan semakin meningkat. Walaupun kenaikannya tidak terlalu besar, yang penting ada peningkatan,” pungkasnya.(dik)
Editor : Mahendra Aditya