KUDUS – Tradisi Dandangan yang telah menjadi bagian dari identitas budaya Kudus resmi dibuka dengan suguhan tarian khas yang mengisahkan asal mula tradisi ini.
Tarian tersebut dibawakan oleh Sanggar Ciptaning Asri di Taman Menara Kudus, disaksikan langsung oleh Forkompimda serta Pj Bupati Kudus, Herda Helmijaya.
Sebagai bagian dari warisan budaya yang telah berlangsung sejak era Sunan Kudus, Dandangan menjadi simbol awal datangnya bulan Ramadan.
Baca Juga: Tak Lama Lagi Tradisi Dandangan Kudus Digelar, Pedagang Mulai Isi Lapak, Catat Waktu dan Lokasinya!
Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Kudus kembali menggelar perayaan ini dengan persiapan matang, termasuk penataan area bagi para pedagang yang menjajakan beragam dagangan khas Dandangan.
Plt Sekretaris Dinas Perdagangan Kudus, Imam Prayitno, dalam sambutannya menjelaskan bahwa kawasan Menara Kudus kembali menjadi pusat utama penyelenggaraan Dandangan.
Selain itu, area pedagang akan tersebar mulai dari Jalan Sunan Kudus, Perempatan Baagil ke arah barat hingga Perempatan Jember.
“Khusus untuk pedagang lesehan, mereka akan ditempatkan di sisi kanan dan kiri jalan, sementara pedagang Dandangan akan berada di tengah jalan serta di sepanjang Jalan Jepara-Kudus dari Perempatan Jember sampai Pasar Jember,” jelasnya.
Imam juga merinci jumlah total pedagang yang terlibat dalam perayaan Dandangan tahun ini, yakni sebanyak 850 pedagang.
Dari jumlah tersebut, 450 merupakan pedagang dengan tenda, yang terdiri dari 380 pedagang asal Kudus dan 80 pedagang dari luar daerah.
Sementara itu, pedagang lesehan tercatat sebanyak 400, dengan lokasi berjualan mulai dari Perempatan Baagil ke arah timur.
Dukungan APBD untuk Tradisi Dandangan
Untuk memastikan kelancaran acara, Pemkab Kudus telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 108 juta dari APBD Kudus.
Pelaksanaan acara ini juga merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Perdagangan dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).
“Anggaran ini digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk dekorasi, pengelolaan tempat, serta mendukung berbagai kegiatan seni budaya yang memeriahkan Dandangan tahun ini,” tambah Imam.
Pj Bupati Kudus, Herda Helmijaya, dalam sambutannya menekankan bahwa Dandangan bukan hanya sekadar ajang perayaan, tetapi juga merupakan wujud nyata dari filosofi hidup yang diajarkan Kanjeng Sunan Kudus, yakni Gusjigang (Bagus, Ngaji, Dagang).
Filosofi ini menanamkan nilai moral, pendidikan, dan kewirausahaan dalam kehidupan masyarakat Kudus.
“Saya merasa beruntung bisa membuka dan menyaksikan langsung tradisi Dandangan tahun ini.
Ini menjadi pengalaman pertama sekaligus mungkin terakhir bagi saya, karena dalam waktu dekat Kudus akan dipimpin oleh bupati baru dan saya akan kembali ke Jakarta,” ujar Herda.
Dengan dibukanya Dandangan 2025, masyarakat Kudus dan sekitarnya diharapkan dapat menikmati rangkaian acara yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat makna budaya dan sejarah.
Perayaan ini tidak hanya menjadi bagian dari identitas Kudus, tetapi juga momentum bagi para pelaku usaha untuk meningkatkan perekonomian mereka menjelang Ramadan.
Dandangan telah dimulai, nuansa tradisi dan semangat ekonomi rakyat kembali menyatu di jantung Kota Kudus!(san)