KUDUS – Produksi kopi robusta yang tumbuh di Pegunungan Muria mengalami penurunan signifikan pada tahun ini.
Penurunan tersebut mencapai 40 persen akibat dampak krisis iklim yang melanda dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Ketua Goodang Kopi Muria, Teguh Budi Wiyono, produksi kopi pada tahun 2024 hanya mencapai delapan ton, jauh lebih rendah dibandingkan dengan produksi sebelumnya yang bisa mencapai 20 ton.
“Krisis iklim, khususnya cuaca kemarau panjang, menjadi faktor utama penyebab penurunan ini,” ungkap Teguh.
Ia menambahkan, kondisi tersebut tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga oleh negara-negara penghasil kopi lainnya yang turut mengalami penurunan produksi serupa.
Selain penurunan hasil panen, dampak lain dari krisis ini adalah lonjakan harga kopi di pasaran.
Harga kopi yang sebelumnya berkisar antara Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per ton, kini naik menjadi sekitar Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per ton.
Kenaikan harga ini terjadi akibat kelangkaan pasokan kopi yang terjadi di banyak daerah penghasil kopi, termasuk Muria.
“Akibat krisis iklim, kopi menjadi semakin langka. Hal ini mendorong kenaikan harga yang cukup signifikan,” kata Teguh, yang juga aktif dalam kegiatan konservasi di Pegunungan Muria.
Baca Juga: Konsumsi Kopi untuk Diet: Pantangan bagi Penderita Hipertensi
Melihat dampak serius dari perubahan iklim, Teguh mengingatkan pentingnya langkah konservasi di daerah tersebut.
Ia dan rekan-rekannya telah mulai menanam bibit pohon di lereng Gunung Muria untuk menjaga keseimbangan alam.
Lebih lanjut, ia juga mengimbau agar pembukaan lahan baru untuk perkebunan kopi dihentikan, karena banyak lahan yang seharusnya menjadi hutan lindung.
“Lahan-lahan tersebut seharusnya tidak dibuka untuk perkebunan kopi lagi. Kami berharap masyarakat di sekitar tidak lagi membuka lahan, karena ini terkait langsung dengan krisis iklim yang kita alami,” tegas Teguh.
Goodang Kopi Muria, yang mengelola hasil kopi dari 63 petani di Desa Colo dan Japan, saat ini mengelola lahan seluas 25 hektar.
Meskipun ada penurunan produksi, kopi Muria masih mampu menembus pasar luar negeri dan dijual di berbagai daerah di Indonesia.
Namun, dalam menghadapi tantangan ini, Goodang Kopi Muria kini tengah berfokus pada pengembangan jenis kopi arabika asli Muria, yang saat ini produksinya belum mencapai 10 persen dari total produksi.
Teguh dan para petani berharap, meskipun kondisi saat ini penuh tantangan, upaya konservasi dan pengelolaan alam yang lebih baik akan membawa perubahan positif bagi produksi kopi di masa depan.
Namun, mereka juga menyadari bahwa perubahan iklim yang terus terjadi tetap menjadi ancaman utama bagi keberlanjutan sektor pertanian kopi di Pegunungan Muria.(gal)
Editor : Mahendra Aditya