KUDUS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kudus masih stagnan. Hingga kini, dapur MBG di Kota Kretek baru satu, tanpa ada perkembangan berarti.
Padahal, idealnya dibutuhkan 88 dapur untuk bisa mengakomodasi 122 ribu siswa yang menjadi sasaran program ini.
Kabid Dikdas Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus, Anggun Nugroho, mengakui bahwa hingga saat ini belum ada progres lebih lanjut terkait penambahan dapur MBG.
Data mengenai bekas sekolah yang telah diregruping dan potensial dijadikan dapur gizi pun masih sama.
“Ya, untuk saat ini masih belum ada perkembangan baru lagi. Kami menunggu informasi lebih lanjut, karena saat ini Kudus baru memiliki satu dapur MBG.
Masih panjang tahapannya untuk bisa memenuhi target 88 dapur,” ungkapnya.
Program MBG memang menjadi perhatian utama dan melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus.
Kesuksesan pelaksanaan program ini membutuhkan sinergi lintas sektor, termasuk Disdikpora Kudus yang bertugas memberikan rekomendasi lokasi untuk dijadikan dapur gizi.
Menurut Anggun, pihaknya hanya berperan dalam memberikan rekomendasi tempat yang memungkinkan untuk dijadikan dapur MBG.
Keputusan akhir tetap berada di tangan Kodim 0722/Kudus dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang bertanggung jawab penuh atas realisasi program ini.
“Kami hanya merekomendasikan lokasi bekas sekolah yang sudah tidak digunakan akibat regrouping. Kalau nanti disetujui, kami siap membantu memfasilitasi,” jelasnya.
Sejauh ini, sudah ada tujuh lokasi sekolah yang diusulkan sebagai dapur MBG. Tujuh lokasi tersebut antara lain:
-
SD 1 Karangbener, Kecamatan Bae
-
SD 4 Margorejo, Kecamatan Dawe
-
SD 1 Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu
-
SD 3 Loram Kulon, Kecamatan Jati
-
SD 3 Gribig, Kecamatan Gebog
-
SD 5 Besito, Kecamatan Gebog
-
SD 1 Tenggeles, Kecamatan Mejobo
Anggun menambahkan bahwa beberapa lokasi tersebut sudah disurvei, tetapi belum ada keputusan akhir mengenai kelayakannya.
“Ya, beberapa sekolah sudah disurvei, tapi sampai sekarang belum ada perkembangan lebih lanjut. Layak atau tidaknya, kami juga masih menunggu informasi,” ujarnya.
Dari sisi pendanaan, Pemkab Kudus sebenarnya telah mencadangkan anggaran sebesar Rp 17,38 miliar untuk program MBG.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kudus, Revlisianto Subekti, menyatakan bahwa hingga saat ini dana tersebut masih diperuntukkan bagi MBG.
Namun, jika nantinya ada perubahan kebijakan, anggaran tersebut bisa saja dialihkan melalui APBD Perubahan.
“Meski ada pernyataan dari Presiden Prabowo bahwa anggaran MBG bisa dialihkan untuk kebutuhan lain, tetapi di Kudus sementara ini masih kami alokasikan untuk MBG.
Kita tetap menunggu arahan lebih lanjut dari pusat,” jelasnya.
Dengan kondisi yang masih jalan di tempat ini, banyak pihak berharap agar program MBG di Kudus bisa segera berkembang.
Jika target 88 dapur MBG bisa terealisasi, tentu manfaatnya akan dirasakan langsung oleh ribuan siswa di Kudus.
Kini, yang tersisa hanyalah menunggu keputusan dari pihak terkait. Kapan dapur MBG akan bertambah? Kita nantikan saja kelanjutannya!(san)
Editor : Mahendra Aditya