KUDUS - Umat Tri Dharma melakukan tradisi malam Sincia di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus dimulai kemarin hingga tengah malam lewat.
Tradisi tersebut menyambut pergantian Tahun Baru Imlek dan digelar secara khidmat.
Malam Sincia dilakukan dengan prosesi sakral, yakni doa dan sembahyang.
Sincia tak hanya tentang merayakan malam pergantian tahun baru, tetapi terdapat makna filosofis, tradisi budaya, serta simbol harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Menurut Kundori, penjaga Kelenteng Hok Hien Bio, kelenteng ramai sembahyang pada malam hari.
Kalau pagi sepi dan tidak ada gebyar seperti makan bersama di kelenteng. Biasa umat merayakan di rumah masing-masing.
Namun, sebelum menyambut tradisi Sincia ada beberapa warga keturunan Tionghoa yang sembahyang untuk mengawali agar perayaan Imlek banyak berkah.
”Sembahyang bersamanya nanti malam mulai pukul 23.00 (tadi malam, Red) dan biasanya sampai pukul 00.00. Untuk Hari Imleknya (hari ini, Red) juga tidak ada perayaan apa-apa,” ujarnya.
Sebastian, salah satu umat Tri Dharma yang sedang sembahyang di Kelenteng Hok Hien Bio kemarin mengatakan, setelah sembah yang ia akan merayakan Tahun Baru Imlek bersama keluarga dengan makan bersama.
”Nanti malam (tadi malam, Red) melekan begadang sampai pagi. Tidak perayaan besar. Hanya makan bersama keluarga dengan sajian khas Indonesia, seperti sate, cap cay, dan nasi padang. Tidak ada menu khas Imlek,” ujarnya.
Sebastian mengaku tidak ada persiapan khusus untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2576.
Selain mewarnai dengan sembahyang, perayaan Imlek akan dimanfaatkan untuk mengikat kebersamaan dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.
”Semoga Tahun Baru Imlek ini, kedepan lebih baik. Baik dari segi ekonomi, kesehatan, maupun lainnya,” kata pria yang berdomisili di Desa/Kecamatan Mejobo, Kudus. (san)
Editor : Ali Mustofa