KUDUS – Siswa SMP Kanisius Kudus menulis surat berisikan tentang deklarasi antikorupsi yang ditujukan untuk Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Aksi ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia yang jatuh pada Senin, 9 Desember 2024.
Sepucuk surat yang ditulis oleh ratusan siswa itu, menyiratkan keprihatinan mereka atas kondisi saat ini.
Salah satu siswa SMP Kanisius Beatrix Lani Peterson menyampaikan harapannya untuk Indonesia di tahun-tahun berikutnya agar bisa maju tanpa adanya tindakan korupsi oleh oknum-oknum tertentu.
“Semoga kalau bisa memungkinkan korupsi bisa hilang dan semua dunia pun makmur,” ujar siswa kelas VII C tersebut.
Dalam suratnya, ia menuliskan harapannya dan bagaimana cara untuk mengatasi agar diri masing-masing tidak melakukan tindakan korupsi.
Beatrix juga menekankan bahwa hal-hal kecil yang dilakukan saat ini bisa berdampak besar di masa depan.
Kepala SMP Kanisius Kudus Heri Kristanto, menambahkan jumlah peserta ada 78 siswa yang merupakan perwakilan dari masing-masing kelas.
Kegiatan lainnya, yakni pentas seni pantomin terkait anti korupsi.
Sebelum membuat surat, kata dia, anak-anak diberikan pengantar bahwa negara Indonesia kaya sumber daya alam (SDA), salah satunya mineral.
Jika dimanfaatkan dengan baik dan tidak ada korupsi, dipastikan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah berupaya mendidik siswa melawan sikap korup dimulai dari diri sendiri yang dari pikiran.
”Siswa juga diperkenalkan nilai-nilai antikorupsi, seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, kemandirian, dan keadilan. Setidaknya, ketika dewasa mereka mampu menjaga prinsip hidupnya tersebut,” ujarnya.
Lomba poster stop korupsi ini, kata dia, sebagai salah satu upaya mendidik siswa melawan sikap korup dimulai dari diri sendiri yang dari pikiran.
Untuk melatih siswa bersikap jujur dan tidak korup, maka pihak sekolah juga mempraktikkan langsung dengan membuat warung kejujuran.
”Warung kejujuran tersebut, menyediakan aneka kebutuhan siswa, termasuk seragam siswa. Jika membeli, membara sendiri dan menulis jenis produk yang dibeli. Kalau ada kembalian uang maka mengambil sendiri karena tidak ada yang jaga,” ujarnya.
Praktik baik melawan korupsi juga diberlakukan terhadap siswa ketika hendak mengikuti ujian sekolah karena di lembar jawabnya terdapat kolom komitmen kejujuran berjanji mengerjakan ulangan dengan jujur.
Hasil evaluasi terhadap siswa, kata dia, sesuai laporan dari orang tua, siswa memang menunjukkan kejujuran, termasuk ketika diberi uang saku ketika masih sisa juga dikembalikan kepada orang tuanya.
Termasuk soal hasil ulangan, imbuh dia, juga dilaporkan kepada orang tuanya, meskipun nilainya tidak bagus dan minta pendapat orang tuanya. (san/him)
Editor : Noor Syafaatul Udhma