Warga Jati Wetan Kudus Keluhkan Debu dan Jalan Licin Imbas Proyek Pembangunan Kolam Retensi, Begini Katanya
Indah Susanti• Selasa, 8 Oktober 2024 | 02:11 WIB
LIHAT LOKASI: Jalan umum terkena ceceran tanah dari proyek kolam retensi di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati.
KUDUS – Truk pengangkut tanah yang melintas di jalanan umum dikeluhkan warga Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati.
Terutama warga yang rumahnya sekitar proyek pembangunan kolam retensi.
Salah satu warga Desa Jati Wetan Amad Sunarji yang mengeluhkan aktivitas truk dump pengangkut tanah untuk menguruk fasilitas umum di tiga dukuh.
Yakni Dukuh Gendok, Barisan dan Tanggulangin, yang menyebabkan jalan kampung menjadi berdebu dan juga licin.
Selama truk pengangkut tanah melintas, tanah yang menempel di roda truk juga menempel di rute jalan yang dilewati.
Sehingga, jalanan berdebu ketika tanah mulai mengering dan jalanan licin ketika hujan mengguyur.
”Jalanan jadi berdebu dan itu mengganggu pernapasan. Bahkan debunya ada yang sampai masuk kamar warga,” ujar Amad.
Untuk itu, ia meminta kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk lebih memperhatikan dampak dari mobilitas kendaraan yang sering mengangkut tanah tersebut.
”Yang awalnya bersih kembali bersih, mohon perhatiannya,” ucapnya.
Terpisah, Kepala Desa Jati Wetan Agus Susanto menjelaskan, tanah yang diangkut menggunakan truk dan sering melintas di jalan umum, sepengetahuannya digunakan untuk pengurukan hingga peninggian fasilitas umum.
Seperti lapangan sepak bola, lapangan voli, halaman masjid, peninggian jalan kampung, dan lainnya.
”Jadi tanah itu merupakan permintaan warga. Truk pembawa tanah lewatnya memang di jalan warga, karena aksesnya cuma satu jalan,” katanya.
Pihak proyek yang bertanggung jawab pada pembangunan kolam retensi di Desa Jati Wetan, dikatakan Agus, juga sudah bertanggung jawab dengan membersihkan bekas lintasan truk.
Setiap sore, ada pekerja yang membersihkan bekas tanah menggunakan air.
”Jalan yang dikeluhkan itu antara Dukuh Gendok sampai Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan," ujarnya.
"Kenapa bisa sampai situ (tiga duuh, Red), karena ada permintaan untuk kebutuhan masyarakat, seperti untuk pengurukan masjid, lapangan, peninggian jalan, dan lainnya,” jelasnya.
Ditambahkan, tanah uruk itu diambil dari galian kolam retensi yang jaraknya kurang dari dua kilometer. Tanah itu pun gratis untuk bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar.
Sebelum tanah itu dibawa ke tempat warga, Agus mengatakan warga sekitar sudah setuju.
Hal itu dibuktikan dengan dokumen yang sudah ditandatangani warga terkait permintaan tanah tersebut.
”Jadi sebelum tanah diserahkan, harus ada persetujuan dari para warga dulu. Setiap pengajuan, warga tanda tangan untuk persetujuan,” tegasnya.
Ke depan, bila memang pendistribusian tanah ini mengganggu warga, hal itu akan dievaluasi.
Agus memastikan, pembersihan akan dimaksimalkan lagi agar tidak mengganggu pengguna jalan.
”Permintaan ini sudah jalan sekitar enam bulan lalu. Kalau mengganggu, akan dievaluasi lagi dan pembersihan akan dimaksimalkan lagi,” ujarnya.
Pihaknya melanjutkan, pembangunan kolam retensi di wilayah Desa Jati Wetan sudah hampir selesai.
Sesuai jadwal, pembangunannya selesai pada akhir tahun 2024 ini. Pembangunan kolam ini pun terbentang di tiga dukuh di Desa Jati Wetan.
Yakni di Dukuh Gendok, Tanggulangin, dan Dukuh Barisan.
Proyek tersebut dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) sebesar Rp 350 miliar. (san/him)