KUDUS - Maraknya bullying di lingkungan sekolah, membuat miris para guru. Atas hal ini, sekolah melakukan tindakan cepat untuk mencegahnya.
Berbagai cara dilakukan, seperti kampanye dan mengenakan atribut yang mengisyaratkan anti-bullying.
Seperti yang dilakukan SMPN 1 Jati, Kudus. Dengan membuat inovasi pin anti-bullying.
Kepala SMPN 1 Jati Sumaryatun menjelaskan, pin anti-bullying saat ini menjadi inovasi terbaru untuk meningkatkan pendidikan di SMPN 1 Jati.
Pin ini, berisi kata-kata positif. Misalnya, Jujur, Saling Menghormati, Saling Menghargai, Bertutur Santun, Rendah Hati, Wajib Bertoleransi, Jangan Mengolok, Saling Memuji, Saling Membantu, Peduli Sesama, Hidup Rukun, Bersikap Ramah, dan Berperilaku Sopan.
”Inovasi ini dicetuskan untuk mengantisipasi bullying di sekolah. Pin ini dikenakan oleh setiap siswa secara gilir berganti setiap hari. Siswa diberi tanggung jawab untuk membangun sikap dan karakternya. Kontrol secara pribadi dan kontrol antarteman dapat dilakukan dalam penerapannya,” jelas Sumaryatun.
Ia mencotohkan, ketika siswa mau berbohong, padahal ia mengenakan pin dengan kata ”jujur”.
Ia tersadar akan pin itu. Atau saat bohong dan temannya mengetahui, temannya mengingatkan agar jujur sesuai dengan pin yang dikenakan.
Sementara itu, jika ada siswa yang bermasalah, sekolah menyelesaikan dengan pendekatan persuasif dan kreatif. Contoh, saat ada sekelompok anak memiliki energi yang lebih.
Sekolah mengarahkan energi yang lebih itu dengan memberi sekelompok anak itu, menyelesaikan proyek kreatif.
Mereka diberi proyek untuk menari yang dalam adegannya ada unsur perang.
Dengan begitu, energi lebih yang terekspresikan ke dalam bentuk perilaku kurang baik dapat diubah terekspresikan melalui tari ini.
Ini sebuah inovasi pendidikan karakter yang menjadi pola di sekolah.
”Siswa tak banyak dinasehati ketika sedang bermasalah, tapi diarahkan ke bentuk ekspresi yang positif. Ini pendekatan kreatif dalam menyelesaikan problem siswa,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kata-kata positif yang disematkan dalam PIN anti-bullying itu, mengandung spirit yang membangun.
Kata-kata positif tersebut, pertama akan mendorong tumbuh kembang potensi sikap siswa.
Berikutnya, dapat menyusul tumbuh kembang potensi keterampilan dan pengetahuan siswa.
”Intinya, pin kata-kata positif dipakai oleh siswa setiap hari selama pembelajaran. Setiap hari berganti. Sekolah menyiapkan pin sebanyak siswa. Dari kelas VII hingga kelas IX ada sekitar 800 siswa,” jelas Sumaryatun
Hal itu tak berarti sekolah harus membuat pin kata-kata positif berbeda satu dengan yang lain sebanyak siswa.
Pun tak berarti sekolah membuat pin yang memuat satu kata positif sebanyak siswa.
Namun, sekolah membuat pin yang memuat kata-kata positif berbeda satu dengan yang lain hanya 33 buah.
Jumlah tersebut, menyesuaikan dengan rerata banyaknya siswa dalam satu kelas.
Namun, setiap siswa bisa memakai semua. Sebab, setiap hari saling bergantian. (san/lin)
Editor : Ali Mustofa