Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengintip Tradisi Guyang Cekathak di Colo Kudus: Memandikan Pelana Kuda Sunan Muria

Sekarwati • Sabtu, 31 Agustus 2024 | 17:35 WIB

 

 

TRADISI: Warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus menggelar tradisi guyang cekathak kemarin.
TRADISI: Warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus menggelar tradisi guyang cekathak kemarin.

RADAR KUDUS  – Warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus bersama dengan Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria menggelar tradisi guyang cekathak atau membasuh pelana kuda Sunan Muria pada 30 Agustus 2024

Tradisi ini digelar setiap musim kemarau, dengan tujuan untuk meminta hujan. Acara dimulai pukul 6.00 diawali dengan pembacaan tahlil dan doa di Makam Sunan Muria.

Setelah itu, pelana Sunan Muria diarak menuju Sendang Rejoso, dengan cara diarak dibawa oleh juru kunci diikuti warga.

Setelah sampai di Sendang Rejoso, pelana kuda Sunan Muria dimandikan sembari membaca shalawat dan doa.

Selesainya pemandian pelana kuda Sunan Muria, juru kunci memanjatkan doa meminta hujan sembari menaburkan cendol dawet. Sebagai tanda turunnya guyuran hujan.

Akhir dari acara, masyarakat menikmati sajian berupa ambengan yang dibawa dari rumah untuk didoakan di dekat Sendang Rejoso.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria Mastur, mengatakan Sendanh Rejoso dulunya merupakan sumber air untuk membersihkan pelana kuda.

Adanya tradisi guyang cekathak itu ditujukan untuk melestarikan budaya yang sudah ada untuk mengenalkan pada generasi muda.

"Kami ingin meneruskan tradisi yang semula sudah diajarkan oleh Sunan Muria, " katanya kemarin.

Ia menerangkan, serangkaian acara guyang cekhatak dimulai malam hari sebelum prosesi pembersihan pelana kuda Sunan Muria.

Masyarakat bersama dengan Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria menggelar manakiban.

"Jadi dalam doa selamatan itu kami juga meminta hujan dengan membaca doa istiqoma' saat pagi hari, " imbuhnya.

Terdapat 300 warga yang mengikuti prosesi tersebut.

Mereka terdiri dari pengurus Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, pedagang, kalangan pelajar, dan masyarakat sekitar pegunungan Muria.

Ia berharap dengan adanya tradisi tersebut bisa memberikan keberkahan di lingkungan Desa Colo. Sekaligus untuk merekatkan hubungan sosial antar masyarakat. (wat/him)

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#colo kudus #guyang cekathak #sunan muria kudus #Budaya #walisongo #mistis #tradisi #Kudus #mitos