KUDUS – Menjelang Pilkada serentak pada 27 November, polisi menggelar simulasi dan antisipasi terjadinya kerusuhan di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus Selasa (20/8).
Pada simulasi Pilkada tim pengamanan punya pengalaman penanganan seperti tahapan pilpres dan pileg lalu.
Dalam simulasi yang diperagakan ratusan personel kepolisian di Alun-alun Kudus, diawali dengan protes salah satu warga yang tidak mendapatkan kesempatan menggunakan hak pilihnya di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Polres Kudus melakulan langkah persuasive untuk membubarkan warga tersebut. Hal ini untuk menghindari terjadinya kerusuhan.
Polisi juga mengambil langkah tegas agar situasi kericuhan bisa dikendalikan.
Kapolres Kudus AKBP Ronni Bonic di Kudus mengatakan, simulasi ini bagian dari gambaran pengamanan Pilkada 2024.
Pengamanan dilaksanakan dari tahapan Pilkada, kampanye, maupun puncak pemungutan suara. Serta proses rekapitulasi suara.
”Kami akan menyiagakan 700 personel dan gabungan dari Kodim Kudus untuk pengamanan Pilkada,” jelasnya.
Terkait potensi kerawanan antar simpatisan, kata dia, juga diantisipasi sejak dini, agar tidak muncul konflik antar pendukung.
Sementara itu, Penjabat (Pj) Bupati Kudus M Hasan Chabibie mengungkapkan bahwa Kabupaten Kudus memiliki pengalaman cukup baik dalam penyelenggaraan pesta demokrasi.
Mengingat Pemilu 2024 yang berlangsung Februari 2024 nyaris tanpa ada gejolak yang mengkhawatirkan.
Demi meningkatnya tingkat partisipasi pemilih, dia mengajak, warga Kudus yang memiliki hak pilih untuk datang ke TPS pada 27 November 2024, karena pada pemilu yang berlangsung Februari 2024 tingkat partisipasi masyarakat Kudus lebih dari 80 persen.
”Kami juga mengajak warga Kudus untuk ikut menjaga situasi wilayah tetap kondusif, karena tuga mejada keamanan tidak diserahkan Kepolisian, tetapi butuh dukungan semua pihak, termasuk pemerintah, penyelenggara pilkada, partai politik, dan seluruh elemen masyarakat,” tandasnya. (gal/him)
Editor : Ali Mustofa