KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus melalui UPTD Puskesmas ikut menyukseskan Gerakan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting yang dikomandoi oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia (RI).
Kabid Kesehatan Masyarakat pada DKK Kudus Nuryanto, mengatakan gerakan intervensi pencegahan stunting dilakukan dengan kegiatan penimbangan bayi dan balita secara serentak di posyandu.
“Sebenarnya sudah kita lakukan sejak Januari 2024, cuma dari Kemenkes dan Kemendagri menggiatkan Juni di seluruh Indonesia, jadi kita kuatkan kembali (gerakan intervensi),” ujar Nuryanto.
Pihaknya menjelaskan, gerakan ini bukan program baru di DKK Kudus.
Penimbangan serentak yang dilakukan sudah dilaksanakan rutin tiap bulan, dan tidak ada goals baru dalam program tersebut.
Kegiatan ini bermuara pada penurunan angka stunting.
“Jadi hasil penimbangan serentak ini nantinya akan di-input di aplikasi elektonik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (E-PPGBM) milik Kementerian (Kesehatan),” tambahnya.
Nuryanto melanjutkan, angka stunting di Kabupaten Kudus telah mengalami penurunan sejak 2023 lalu.
Pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prosentase stunting di Kudus menurun dari 19 persen di tahun 2022 menjadi 15,7 persen di tahun 2023.
Sementara di sistem E-PPGBM atau catatan dari penimbangan serentak, angka stunting di Kudus turun dari 5,05 atau sekira 2.700 anak di Desember 2023, menjadi 4,4 persen atau sekira 2.200 anak di bulan Maret 2024.
“Untuk sasarannya sekitar 56.000 balita, jadi data terakhir Maret kemarin angka stunting 4,4 persen atau sekitar 2.200-an anak,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Undaan Amad Mochamad menambahkan, Gerakan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting di wilayah kerja setempat, dijadwalkan mulai 4-15 Juni 2024 di masing-masing posyandu.
“Untuk sasaran di wilayah kerja Puskesmas Undaan ada 3.205 anak, tersebar di 10 desa,” kata Amad. (san/him)
Editor : Ali Mustofa