KUDUS – Pemerintah Desa (Pemdes) Ternadi, Kecamatan Dawe, Kudus tidak lagi mampu mengelola wisata alam Gardu Pandan.
Saat ini, pemdes itu mencoba menawarkan pada investor untuk menghidupkan wisata yang pernah hits itu.
Hal itu diungkapkan Kepala Desa Ternadi Arik Wahono. Ia mengatakan, kondisi wisata Gardu Pandan sekarang tidak terawat.
Ditumbuhi banyak rumput liar. Juga tidak ada pengelola.
Selain itu, akses jalan menuju tempat wisata rusak tidak dapat dilalui mobil. Selain itu becek.
Sehingga, pihaknya terpaksa menutup wisata tersebut dan membebaskan tiket masuk.
“Sudah hampir lima tahun sepi. Jadi, saat ini ditutup, tapi kalau ada yang berkunjung tidak apa-apa,” katanya kemarin.
Menurutnya, wisata mulai tidak terawat sejak pandemi Covid-19. Wisatawan berangsur sepi dan mengalami penurunan kunjungan.
Wisata yang dulunya hits tidak dikembangkan oleh masa pemerintahan desa sebelumnya.
Akibatnya, fasilitas dan layanan wisata kurang diperhatikan.
“Karena dulu dipegang penanggung jawab atau Pj kepala desa selama tiga tahun sendiri dan tidak mampu menyelesaikan masalah itu,” imbuhnya.
Mengetahui kondisi tersebut, pihaknya berencana menawarkan pada investor untuk menghidupkan kembali kemeriahan wisata Gardu Pandan.
Sebelumnya, dalam sebulan pihaknya bisa mendapatkan penghasilan Rp 3-4 juta dari tiket masuk wisata.
Sebagian penghasilan disetorkan pada pihak perhutani.
“Wah dulu ramai sekali. Banyak pengunjung datang untuk liburan. Sekarang sepi sekali” ujarnya.
Saat ini, sedang menjaring investor dengan koordinasi dengan dinas terkait.
Rencananya mulai dipromosikan setelah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 berakhir.
Investor yang masuk akan diberi perjanjanjian bagi hasil dengan Pemdes Ternadi.
“Kami sudah cari investor. Sekarang tinggal nunggu hasilnya bagaimana. Sekarang memang belum ada hasil. Semoga bisa dapat” paparnya. (wat/zen)
Editor : Ali Mustofa