Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mitos Keramat Ajian Rajah Kalacakra Sunan Kudus, Konon Bisa Lengserkan Penguasa Sombong

Dzikrina Abdillah • Selasa, 2 April 2024 | 23:01 WIB
BERKURANG: Jumlah wisatawan kunjungimenara kudus pada Sabtu (1/1) kemarin.
BERKURANG: Jumlah wisatawan kunjungimenara kudus pada Sabtu (1/1) kemarin.

RADAR KUDUS - Sunan Kudus memiliki peran besar dalam penyebaran agama Islam di Kota Kudus.

Salah satu peninggalan Sunan Kudus yang masih bisa dijumpai adalah Masjid Al-Aqsa atau biasa dikenal dengan nama Masjid Menara Kudus.

Menara Kudus memiliki empat gerbang.

Dari empat gerbang yang ada, salah satunya memiliki mitos tentang sebuah ajian yang sengaja ditanam oleh Susn Kudus, yaitu Ajian Rajah Kalacakra.

Konon katanya jika seorang pejabat atau petinggi melewati gerbang ini, maka orang tersebut akan turun dari jabatannya.

Meski kebenaran tentang gerbang Rajah Kalacakra ini masih dipertanyakan, masyarakat sekitar tetap mempercayai mitos tersebut hingga saat ini.

Rajah Kalacakra konon ceritanya, itu bisa menurunkan segala macam ilmu pada seseorang, yang dimiliki oleh seseorang.

Dalam beberapa kisah disebutkan, kekuasaan Arya Penangsang, murid kesayangan Sunan Kudus, yang juga Sultan Demak V, runtuh setelah menduduki Rajah Kalscakra.

Benar atau tidak, tentu harus diseliti lebih lanjut.

Bahkan hingga kini kepercayaan itu masih dipercaya masyarakat.

Rajah Kalacakra ini juga dipercaya ditanam Sunan Kudus di Jembatan Tanggulangin yang menghubungkan Kabupaten Kudus dan Demak.

Sejumlah pejabat di Indonesia bahkan pantang melewati jembatan tersebut apalagi berziarah ke makam Sunan Kudus.

Salah satu pejabat yang enggan melewati Jembatan Tanggulangin Kudus adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Saat hendak berkunjung ke kota di sepanjang jalur Pantura ia menghindari Jembatan Tanggulangin dan memilih melewati jalur alternatif. 

Selain itu, Bupati Kudus Tamzil juga lebih memilih melewati jalan Terengguli Demak menuju ke Jepara baru ke Pendoko Kabupaten Kudus usai dilantik di Semarang. 

Hal serupa juga dilakukan Hartopo atau yang dulu jadi wakinnya sekarang jadi Bupati Kudus.

Ia memilih jalur Semarang Purwodaging Bulung Cangkring Pendopo Kabupaten Kudus untuk sampai ke Pendopo.

Namun, ada pula pejabat yang tetap melewati Jembatan Tanggulangin Kudus.

Seperti Wiranto dan Gus Dur.

Melihat Arsitektur Sunan Kudus dan Menara Kudus

Berjalan di halaman sekitar Masjid Menara Kudus sangat terlihat jelas, betapa Sunan Kudus mampu menghargai raga budaya dalam penyebaran agama Islam. 

Menara merupakan menjadi elemen yang paling menonjol dan unik di kawasan Masjid Kudus.

Berketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10x10 meter, Menara Kudus berkirikan arsitektur Hindu-Jawa yang sangat khas.

Sunan Kudus membuat arsitektur yang sangat agamis dengan cara membangun menara, dan masjid, dan kotanya itu dengan arsitektur yang menarik.

Disebut menarik lantaran bagian atasnya seperti menara kulkul di Bali. 

Tetapi kakinya itu sama persis dengan arsitektur cantik jago di Singosari.

Arsitektur tradisional Jawa dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berkonstruksi kayu jati dengan empat soko yang menopang dua tumpuk atap berbentuk kaju.

Ruang bagian atas menara terdapat beduk dan kentongan yang digunakan sebagai penanda waktu.

Memasuki area masjid, kita akan bisa melihat rasasi yang terletak di atas nihrot masjid menara Al-Aqsa.

Rasasi ini menyebutkan dengan jelas tahun pembuatan masjid ini.

Namun tidak ada yang tahu pasti kapan Sunan kudus migrasi dari demak ke kudus dan memulai penyebaran Islam di kota ini.

Hingga kini hal itu masih menjadi perdebatan beberapa pihak.

Hal itu lantaran posisi Sunan Kudus selain penggawah itu juga panglima perang.

Tetapi yang jelas adalah pada tahun 1549 Sunan Kudus mendirikan masjid Al-Aqsa.

Masjid Kudus ini mampu menampung 2000 jemaah.

Masjid ini telah direnovasi pada tahun 1618 silam, sehingga bentuknya memang tidak sama lagi dengan aslinya.

Pada bagian dalam kompleks masjid, terdapat kolam kuno yang dijadikan sebagai padasan atau tempat berhudu.

Tempat wudhu ini berbentuk arca di atasnya.

Konon wujud tempat wudhu ini diadaptasi sungai kudus dari keyakinan umat Buddha yaitu 8 jalan kebenaran.

Secara garis besar, kompleks masjid menara kudus terbagi menjadi 11 halaman.

Masjid terletak pada halaman pertama dan kedua dan beberapa bangunan tempat beristirahat di halaman berikutnya.

Dari bagian halaman kelima, pengunjung bisa langsung menuju ke kompleks makam sunan kudus serta keluarga dan krabatnya.

Masuk ke area makam, yang mana di area terdepan ini terletak makam dari pangeran Pancawati menantu sekaligus salah seorang senopati dari sunan kudus.

Makam Sunan Kudus menggunakan 4 material yaitu kayu jati, batu bata, batu andesit, dan juga batu karat.

Nampak pula beberapa aksara jawa masih membekas di beberapa makam.

Kompleks makam sunan kudus ini terbagi dalam beberapa blok.

Uniknya pada tiap bagian itu, terdapat 2 pintu gerbang yang sangat mirip dengan jalan sunga candi.

Makam sunan kudus sendiri berada di dalam cungkup yang terletak di bagian belakang kompleks pemakaman.

Berbeda dengan makam anggota wali selama yang lain, cungkup makam sunan kudus tidak dibuka untuk umum.

Hal ini bertujuan untuk menjaga kesakalan dan buktu dari makam asli. 

Editor : Dzikrina Abdillah
#apes #Penguasa #arsitektur #kekuasaan #sunan kudus #lengser #hindu #Rajah Kalacakra #pejabat #menara kudus