KUDUS - Dua mesin pompa polder di Tanggulangin, Kudus, telah dinyalakan. Menyedot air dari sisa genangan banjir ke sungai Wulan.
Operasional pompa dilakukan sejak Minggu (24/3).
Meskipun warga telah kembali ke rumah, beberapa genangan air masih terpantau di Dukuh Tanggulangin.
Genangan ini rata-rata menggenangi akses jalan. Sedangkan rumah warga terpantau aman.
Di sisi lain, aktivitas di SD 3 Jati Wetan kembali normal Senin (25/3). Pihak sekolah mulai membersihkan ruang kelas sejak Sabtu (23/3).
Saat cek sekolah itu, pengelola sekolah mendapati tembok kelas retak. Diduga kuat akibat gempa pada Jumat (22/3) lalu.
Babinsa Jati Wetan, Sertu Yuyun Prihanto mengatakan, kondisi terkini genangan banjir kian turun. Kondisi genangan yang saat ini masih ada 10 hingga 15 sentimeter.
"Upaya yang dilakukan dari pemerintah daerah dan desa membuang genangan dengan menyedot menggunakan pompa polder," katanya.
Pompa polder ini bisa diaktifkan, karena kondisi muka air Sungai Wulan di bawah pompa. Sedangkan kapasitas pompa polder ini 800 liter per detik.
Sementara untuk pintu air saat ini belum dibuka. Pasalnya ketinggian air di Sungai Wulan lebih tinggi daripada mulut pintu air.
"Untuk upaya penghidupan pompa ini, estimasi genangan akan surut tiga hingga lima hari ke depan," jelasnya.
Terpisah, Kepala Sekolah SD 3 Jati Wetan, Sugiyantoro mengatakan, banjir di sekolah mulai surut Kamis (21/3).
Namun masih ada genangan di kelas setinggi lima sentimeter.
Air mulai surut dari ruang kelas sejak Jumat (22/3). Pada hari Sabtu pihak sekolah melakukan pembersihan.
"Senin (hari ini) siswa sudah mulai masuk, tapi sebagian dari murid ada kiriman banjir (Rumah kebanjiran,Red). Yang berangkat sebagian kecil," katanya.
Di sisi lain, gempa yang mengguncang Tuban berdampak pada rusaknya bangunan sekolah. Tembok SD 3 Jati Wetan mengalami retak di ruang kelas 4 dan 5.
Menurut Sugi, bangunan tersebut terbilang baru direhap tahun 2023. SD 3 Jati Wetan sempat ditinggikan agar tak kebanjiran
"Jumat sore ada gempa terjadi retakan tembok di kelas 4 dan 5. Ini baru diketahui Senin pagi saat mensupervisi kelas," katanya.
Sementara untuk retakan tembok tersebut panjangnya sekitar tiga meter.
Pihak sekolah telah melaporkan tembok retak yang dibiayai dengan DAK tersebut kepada pihak pengawas.
Kondisi tembok retak akibat gempa bumi, kata Sugi sangatlah membahayakan bagi para siswa.
Pihaknya khawatir apabila terjadi gempa kembali akan berakibat tembok tersebut runtuh. (gal/zen)
Editor : Noor Syafaatul Udhma