KUDUS – Perbaikan tanggul Sungai Wulan di Dukuh Norowito, Desa Ketanjung, Karanganyar, Demak, sudah selesai kemarin.
Progres perbaikan tanggul tinggal 10 meter dari luas kerusakan sebelumnya 30 meter.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus di lokasi kemarin, tampak petugas dari TNI mengisi karung dengan tanah.
Nantinya digunakan untuk menambel tanggul jebol. Karung-karung itu, lalu diangkut dengan eskavator ke titik jebol.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Harya Muldiyanto mengatakan, selama lima hari proses perbaikan tanggul, pihaknya mengerahkan 10 unit alat berat. Di antaranya, eskavator, buldozer, truk dump, dan lain-lain.
Ia menyebut, jika cuaca mendukung perbaikan tanggul Sungai Wulan selesai ditutup kemarin.
Sedangkan perbaikan tanggul Sungai Lusi di Desa Bugel, Kecamatan Godong, Grobogan, telah rampung pada Rabu (20/3) siang lalu.
”Selama tiga dengan cuaca kondusif seperti ini, aliran air turun. Bahkan, air yang meluber kembali ke sungai," katanya kemarin.
Harya menjelaskan, perbaikan tanggul Sungai Wulan saat ini bersifat darurat.
Selanjutnya, akan diperbaiki secara permanen pada musim kemarau mendatang.
Termasuk memperbaiki tanggul-tanggul sungai yang jebol di wilayah Demak karena limpasan Sungai Wulan pada Februari lalu.
Ia memperkirakan, perbaikan tanggul Sungai Wulan secara permanen dilaksanakan pada April-Mei.
Baca Juga: Presiden Jokowi Mendadak Batalkan Berkunjung ke Kudus Usai Tinjau Banjir Demak, Ada Apa?
”Jadi nanti tanggul Sungai Wulan kami bongkar lagi dan kami perbaiki lagi sesuai dengan desain, " jelasnya.
Tidak hanya itu, ke depan pihaknya juga akan menormalisasi sungai besar di Jawa Tengah. Tujuannya, untuk meambah daya tampung sungai saat menghadapi musim hujan.
”Harapannnya sungai mampu menampung debit air sesuai desain,” imbuhnya.
Sementara itu, pintu air di Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Jati, Kudus, telah dibuka per Rabu (20/3) siang. Banjir di Tanggulangin diprediksi akan surut satu pekan ke depan.
Diketahui, banjir di Kudus melanda pada Kamis (14/3). Sementara jumlah pengungsi warga Desa Jati Wetan yang masih bertahan di posko pengungsian ada 306 jiwa.
Kondisi banjir di Dukuh Tanggulangin berangsur surut mulai kemarin pagi.
Namun, beberapa sejumlah akses jalan menuju rumah warga masih ada yang tergenang.
Beberapa warga yang bertahan di rumah beraktivitas dengan menerobos genangan banjir.
Mereka masih menggunakan perahu untuk mengangkut barang, agar tidak basah. Terpantau juga warga yang mengecek kondisi rumahnya.
Arief, warga Tanggulangin mengaku, pintu air di Dukuh Tanggulangin telah dibuka pada Rabu (20/3) sekitar pukul 13.00. Kemarin, kondisi banjir mengalami surut, meski sedikit.
”Semula ketinggian air sepusar orang dewasa. Kini (kemarin, Red) setelah pintu air dibuka menjadi selutut,” katanya.
Selama banjir ini, Arief masih bertahan di rumahnya. Ia tak mengungsi lantaran kondisi air di dalam rumahnya hanya sebatas mata kaki.
Namun, selama banjir ini tak ada suplai bantuan logistik sama sekali. Ia makan dengan memasak sendiri.
Baca Juga: Banjir di Jati Kudus Surut, Warga di Lokasi Pengungsian Berangsur Pulang, Akses Jalan Bisa Dilintasi
Moh Muslih menengok rumahnya yang terendam banjir kemarin. Ia memastikan kondisi rumahnya aman. Juga mengecek ketinggian air.
”Ini (kemarin, Red) sudah lumayan surut. Air di dalam rumah sudah surut sekitar lutut,” katanya.
Terpisah, Camat Jati Fiza Akbar mengatakan, dibukanya pintu sungai ini akan membuat banjir surut. Dimungkinkan banjir akan hilang sekitar satu pekan.
Selain membuka pintu air, empat pompa portable milik BBWS Pemali Juana juga dioperasikan untuk menyedot air.
”Kapasitas pompa air per unit 250 liter per detik. Kalau empat pompa hidup, berarti 1.000 liter per detik. Operasionalnya 24 jam,” katanya.
Fiza menambahkan, terkati tidak ada distribusi makanan kepada warga yang bertahan di rumah, sebetulnya telah dikomunikasikan.
Warga yang bertahan di rumah diberikan subsidi bahan-bahan dapur. Masyarakat bisa mengolah atau memasak sendiri.
Sementara terkait kebutuhan makan warga bisa mengambil sendiri di posko.
Sebab, relawan tengah sibuk bertugas di posko. Diharapkan warga bisa saling mengerti akan kondisi tersebut.
Di sisi lain, penanganan banjir di Kabupaten Jepara telah resmi selesai sejak Rabu (20/3) lalu.
Mulai dari posko bencana juga dapur umum telah ditutup seluruhnya.
Namun, tak selesai di situ, kemarin BPBD Jepara langsung mengerahkan bantuan armada dan personel untuk membantu penanganan banjir di Kabupaten Demak.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jepara Arwin Noor Isdiyanto menjelaskan, bantuan yang dikerahkan berupa unit dapur umum dan pompa.
”Pompa dikerahkan di Demak. Sementara dapur umum dikerahkan untuk mensuplai makanan pengungsi di Kudus,” ungkapnya.
Ia berharap, penanganan banjir di Demak bisa cepat teratasi. ”Bencana itu tidak mengenal batas teritorial. Semua adalah masalah kemanusiaan,” tegasnya.
Sementara itu, di Kota Ukir sendiri sejauh ini banjir yang melanda telah berangsur surut.
Namun, beberapa area persawahan masih tergenang.
Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara, area persawahan yang terdampak sekitar 1,7 ribu hektare.
Kepala DKPP Kabupaten Jepara Diyar Susanto menjelaskan, dengan jumlah area persawahan yang terendam itu, ada beberapa area yang diprediksi mengalami puso.
Sebab, beberapa ada yang sudah akan mendekati panen. Pihaknya tak tinggal diam.
”Kami segera laporan ke pusat dan provinsi. Nanti paling tidak ada hal-hal yang berkaitan dengan bantuan bibit atau apalah, yang penting data itu valid,” katanya. (wat/gal/rom/lin)
Editor : Noor Syafaatul Udhma