KUDUS — Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, mencatat awal 2024 sudah ada satu kasus angka kematian ibu (AKI) dan untuk kematian bayi masih nol.
Kasus kematian satu ibu tersebut terindikasi, karena penyakit bawaan yang tidak terdeteksi secara maksimal.
Terlebih, ibu tersebut kerja di wilayah kecamatan lain dari tempat tinggalnya.
Sehingga, mobilitas tersebut tidak bisa terpantau dengan maksimal oleh petugas kesehatan.
Kabid Kesehatan Masyarakat DKK Kudus Nuryanto, menjelaskan ada kasus satu kematian ibu.
Posisi kerja di kecamatan lain, jadi terpantaunya sulit. Dan ternyata, punya penyakit kronis yang tidak terdeteksi.
Baca Juga: Rekomendasi Tempat Ngabuburit di Blora Dengan View Sunset yang Aesthetic, Ini Lokasinya!
”Sementara untuk kasus angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Kudus hingga awal Maret 2024 ini, kata Nuryanto, belum ada temuan kasus atau masih nol.
Bayi masih nol kasus, semoga yang bisa terpantau semua dan sehat semua,” tuturnya.
Lebih lanjut, Nuryanto mengatakan ada sebanyak 11 ibu dan 124 bayi yang meninggal dunia di tahun 2023.
Jumlah tersebut cenderung turun di 2022, sebanyak 12 ibu dan 125 bayi tercatat meninggal dunia.
Pihaknya menyebut, kasus kematian ibu yang terjadi, seringnya disebabkan karena perdarahan pasca melahirkan.
Perdarahan pasca melahirkan itu yang kadang tidak bisa dikendalikan, jadinya memang harus waspada.
Sedangkan untuk kasus kematian bayi, terjadi karena beberapa faktor.
Baca Juga: Tak Main-main! Nekat Buka saat Ramadan, Izin Usaha Hiburan Karaoke di Pati Terancam Dicabut
Antara lain, penyakit bawaan, berat badan lahir rendah (BBLR), dan lahir kurang umur atau prematur, meskipun hanya selisih satu, kasus Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) sangat berarti penting bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus.
Terlebih, kasus AKI dan AKB yang terjadi di tahun 2023 tersebut tidak berada di fasilitas kesehatan (fakses) tingkat dasar, baik itu di puskesmas maupun rumah bersalin.
Nuryanto menyebut, kasus kematian ibu yang terjadi, seringnya disebabkan karena perdarahan pasca melahirkan.
“Untuk kasus kematian bayi, terjadi karena beberapa faktor. Antara lain, penyakit bawaan, berat badan lahir rendah (BBLR), dan lahir kurang umur atau prematur," ujarnya.
"Penurunan jumlah kasus AKI dan AKB ini ada langkah-langkah yang baik, harapan kami semua sudah berproses sesuai tugas dan fungsi masing-masing,” lanjutnya.
Pihaknya pun menegaskan kembali kepada masyarakat, untuk rajin memeriksakan kehamilannya.
Layanan bagi ibu hamil di puskesmas telah disediakan pemeriksaan Antenatal Care (ANC) sebanyak enam kali.
Dimana, dua pemeriksanaan diantaranya adalah pemeriksaan USG.
“Harapan kami, ibu-ibu di Kudus itu memeriksakan USG. Bisa datang ke puskesmas, di kita kan ada layanan. Dengan demikian bisa mnurunkan angka kematian ibu dan bayi,” terangnya. (san/him)
Editor : Noor Syafaatul Udhma