KUDUS - Hujan terjadi sejak Selasa (12/3) mengakibatkan sejumlah kabupaten di Kudus kebanjiran.
Hingga Kamis (14/3) sore kemarin empat kecamatan kebanjiran, Yaitu kecamatan di Kudus yang kebanjiran yaitu Kecamatan Mejobo, Jati, Kaliwungu, dan Jekulo.
Melihat intensitas hujan yang belum berhenti, dimungkinkan wilayah dan dampak banjir akan bertambah.
Banjir itu diakibatkan beberapa sungai di Kota Kretek limpas. Yaitu sungai di Kecamatan Mejobo meliputi, Desa Kesambi dan Desa Temulus Kec. Mejobo.
Kemudian di Kecamatan Jati sungai di Dukuh Badong, Desa Tumpang Krasak dan Desa Ngembalrejo.
Di Kecamatan Jekulo meliputi sungai di Dukuh Jawik, Desa Pladen dan Desa Tenggeles.
Kemudian di Kecamatan Kaliwungu meliputi Desa Prambatan Lor, dan Desa Setrokalangan (Jalan akses ke Dukuh Karangturi) Kec. Kaliwungu. Serta di Desa Tanggulangin, Kec. Jati Wetan (dampak banjir lihat grafis).
Pantauan di lapangan, banjir ini menggenangi perempatan Mejobo, Desa Mejobo.
Air limpasan sungai Dawe dan Piji menggenangi jalan setinggi 30-50 sentimeter.
Beberapa pengendara terpaksa menerobos jalan yang tergenang air tersebut.
Mereka yang nekat menerobos, sebagian kendaraannya mogok. Lantaran kemasukan air.
Salah seorang warga Desa Mejobo, Junaedi mengatakan, perempatan Mejobo tersebut jadi langganan banjir.
Biasanya terjadi pada Desember. Namun pada Desember lalu belum terjadi banjir.
”Banjir mulai datang Rabu (13/3) pukul 21.00. Biasanya Desember sudah banjir, ini ternyata telat baru Maret,” ungkapnya.
Dia juga meminta pengendara motor untuk berhati-hati saat melintas perempatan Mejobo.
Apabila kurang piawai dalam mengendarai sepeda motor makan mesin akan mati.
Camat Mejobo, Zaenuri menyatakan ada tanggul jebol di Sungai Piji dan Sungai Dawe.
Wilayah terdampak di Desa Tenggeles dan Desa Golantepus.
”Desa yang terdampak banjir di Kecamatan Mejobo ada tujuh. Lokasinya di Desa Tenggeles, Kesambi, Golantepus, Temulus, Mejobo, Payaman, Jojo dan Gulang,” katanya.
Ketinggian air, lanjutnya, 10-50 sentimeter. Jumlah warga yang terdampak ribuan jiwa.
Warga yang terdampak banjir di lokasi itu, hingga kemarin sore belum ada yang mengungsi.
Namun apabila kondisi semakin parah warga yang terdampak banjir akan mengungsi.
Posko pengungsian yang disediakan di balai desa setempat dipastikan sudah siap.
Sementara itu kondisi rumah di RT 1/2 Desa Golantepus, Mejobo, Kudus, terendam banjir.
Hal itu diakibatkan tanggul di Sungai Piji di sekitar wilayah tersebut jebol pada Kamis (14/3).
Kepala Desa Golantepus, Nur Taufiq mengatakan, tanggul jebol itu memiliki lebar sebesar lima meter.
Warga bersama pihak desa sebelumnya telah berusaha menambal tanggul jebol tersebut secara swadaya.
Taufiq menambahkan, penambalan tersebut ternyata sia-sia. Pasalnya arus Sungai Piji terlampau deras.
Sehingga merusak tambalan baru di tanggul tersebut.
"Awalnya surut, kami langsung menambal. Namun arus sungai yang kuat tambalan tersebut jebol.”
"Warga masih bertahan di sana. Belum ada yang mengungsi," katanya.
Tidak hanya satu lokasi itu, 200 KK di RW 4 desa itu juga terkena dampak banjir. Sementara di RW 5 sebanyak 200 KK.
"Yang paling di RW 2. Kami siaga terus memantau perkembangan," ungkapnya.
Sementara di Kecamatan Jati, lima desa terendam. Yaitu Desa Jati Wetan, Jati Lor, Jetis Kapuan, Tanjungkarang, dan Pasuruhan Lor.
Camat Jati Fiza Akbar mengatakan, sementara ini terdapat 20 jiwa dari 6 KK mengungsi di Balai Desa Jati Wetan.
Pihaknya bersama tim gabungan bencana masih mengevakuasi warga terdampak banjir.
"Kondisi air di permukiman warga terus meningkat. Kami masih fokus evakuasi warga terlebih dahulu. Setelah itu kami siapkan dapur umum," katanya.
Menurutnya, kondisi banjir terparah berada di Desa Jati Wetan di Dukuh Tanggulangin, Barisan, dan Gendok.
Kemudian di Desa Jetis Kapuan yang merendam tiga RW.
Total dari masyarakat yang terdampak banjir di Kecamatan Jati, Kudus berkisar 6.800 jiwa.
Ketinggian air di permukiman warga kurang lebih 30-60 sentimeter. Bahkan di daerah tertentu dalam banjir 70 sentimeter.
Ia menyebut, banjir yang merendam rumah-rumah warga disebabkan curah hujan tinggi.
Sehingga membuat sungai tidak mampu menampung banyaknya air.
Kecamatan Jati merupakan wilayah terendah di Kabupaten Kudus. Apabila musim hujan, warga di wilayah itu langganan banjir.
"Terutama di wilayah Desa Jati Wetan. Secara geografis paling rendah. Terkena limpasan dari dataran tinggi Muria, " jelasnya.
Siti Jamaah, warga Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan mengaku dengan suka rela datang ke posko pengungsian.
Bersama dengan anggota keluarganya, ia tiba di Balai Desa Jati Wetan pukul 10.00.
Ia mengatakan, banjir di rumahnya setinggi lutut orang dewasa. Sedangkan air masuk dalam rumah sejak Rabu (13/3) lalu.
Menurutnya, setiap musim hujan rumahnya selalu kebanjiran dan terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan keluarga.
"Saya tahu air sudah masuk rumah, barang-barang langsung diamankan. Setiap tahun pasti ngungsi di sini (Balai Desa Jati Wetan, Red)," paparnya. (gal/wat)
Editor : Noor Syafaatul Udhma