Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Cerita Pedagang Asal Jogja Mremo di Dandangan Kudus: Soal Omzet Tak Dihiraukan, Yang Penting Ngalap Berkah Mbah Sunan

Indah Susanti • Jumat, 8 Maret 2024 | 23:35 WIB
SELALU RAMAI: Para pengunjung dandangan memenuhi depan stan-stan yang berjajar di Jalan Sunan Kudus hingga Perempatan Jember.
SELALU RAMAI: Para pengunjung dandangan memenuhi depan stan-stan yang berjajar di Jalan Sunan Kudus hingga Perempatan Jember.

KUDUS, Radar Kudus – Dandangan sudah berjalan satu pekan. Tidak ada sepinya.

Pengunjung memenuhi jalan dandangan untuk menikmati para pedagang yang mremo berbagai macam barang yang dijajakan.

Ratusan pedagang yang berjajar di tenda sarnafil di sepanjang Sunan Kudus sampai perempatan Jember itu, ada beragam sajian dagangan.

Pengunjung dimanjakan dengan banyaknya pilihan barang yang mau dibeli dan menarik.

Namun, bejubelnya pengunjung, tak lantas semua pedagang laku. Ada lapak yang sepi pembeli. Ada pula yang ramai.

Kondisi tersebut sudah menjadi hal yang biasa bagi pedagang yang mremo di dandangan.

Seperti Nur Syahfrudin, penjual kerak telur yang mangkal di sebelah barat parkir kantor Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (pinggir Gang Menara 2) mengatakan, tiap malam jualan dengan omzet yang biasa saja.

”Saya asli Jogjakarta. Sudah 15 tahun ikut jualan di dandangan. Dari tahun ke tahun menurun pembelinya, tapi bagi saya itu bukan yang utama. Yang penting bisa ngalap berkah dari Mbah Sunan Kudus,” ujarnya.

Ia setiap kali jualan membawa telur bebek sekitar 10 kilogram. Buka dari pukul 16.00 hingga pukul 22.00. Terkadang hanya laku 15 butir telur. Paling ramai Sabtu. Bisa sampai 50 butir telur.

Baca Juga: Mengenal Sosok Erwina Rantaunika, Guru Kesenian di SMP Juwana Pati yang Miliki Gaya Sendiri Ajarkan Seni ke Anak Didiknya

”Saya jual kerak telur Rp 20 ribu. Sebenarnya ramai pengunjung dandangan, tapi sekadar lewat. Lihat-lihat doang. Saya rasakan setiap tahun berbeda suasananya. Namun, saya senang masih bisa jualan di dandangan,” jelasnya.

Nur menambahkan, lokasi tempat ia berjualan ditarif Rp 200 ribu selama 10 hari.

Paling susah kalau hujan, tapi ia sudah sedia payung besar untuk melindungi dagangannya.

Menurutnya, keramainnya tidak berubah, tapi daya belinya yang menurun.

Sama halnya dirasakan Darman, penjual boneka asal Desa/Kecamatan Jekulo, Kudus.

Dia mengatakan, pembeli boneka rata-rata para remaja. Lumayan ramai dan hasil penjualan yang ia dapatkan sudah bisa menutup modal sewa tenda.

”Saya nyewa ini Rp 1,5 juta. Alhammdulillah, sudah bisa nutup modal. Semalam penjualan yang saya peroleh tidak tentu. Rata-rata Rp 1 jutaan. Sabtu kemarin ramai, sampai dapat Rp 2 jutaan,” ucapnya.

Ia menambahkan, dandangan ramai dan tidak bukan menjadi persoalan. Sebab, sudah ia lakoni selama 20 tahun selalu ikut jualan di dandangan.

Tujuannya ngalap berkah Sunan Kudus. Baginya, jualan di dandangan tidak perlu terlalu memikirkan omzet, yang penting dagangannya ada yang membeli.

”Memikirkan penjualan ada, tapi saya buat santai. Yang penting bisa kumpul pedagang lain. Bisa jadi hiburan,” imbuhnya. (san/lin)

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#ngalap berkah #pembeli #hiburan #tradisi dandangan #Kudus #pedagang