KUDUS – Pengungsi korban banjir asal Desa/Kecamatan Karangayar, Demak, terus bertambah.
Posko pengungsian di Kecamatan Jati, Kudus, hingga sudah penuh. Dengan diisi 257 pengungsi.
Namun, masih ada posko lain, di Jembatan Tanggulangin, Terminal Induk Kudus, Koramil Jati, dan Gedung DPRD Kudus.
Total pengungsi per kemarin sekitar pukul 11.00 ada 1.291 jiwa.
Baca Juga: Cerita Warga Karanganyar Demak Korban Banjir 2 Meter: Trauma dan Tak Makan Sehari Semalam
Bantuan terus berdatangan. Terutama di Balai Desa Jati Wetan yang jumlah pengungsinya paling banyak.
Para pengungsi tercukupi kebutuhannya. Mulai dari bahkan makanan dan minuman, pakaian, sandal, hingga selimut.
Namun, kebutuhan logistik untuk bayi dan balita mengalami kekurangan.
Terutama ketersediaan susu formula, popok, serta selimut khusus bayi dan balita.
Seperti yang dialami Siti Solihah, pengungsi di Balai Desa Jati Wetan asal Desa Babatan, Kecamatan Karangayar, Demak.
Dia mengungsi bersama ayah, ibu, dan anaknya yang baru berusia tiga bulan.
”Saya butuh susu formula. Karena waktu menyelamatkan diri hanya membawa satu dos susu formula. Susu yang saya berikan memang seduhannya tidak kental, karena saya irit takut kehabisan," ujarnya.
"Airnya juga pakai air biasa, bukan air panas. Popok juga tidak bawa dan belum dapat bantuan. Anak saya juga tidak mandi, hanya cukup sibinan,” jelasnya.
Siti bercerita, pada waktu kejadian tanggul jebol Kamis (8/2) pagi lalu, dia menyelamatkan diri di atas tanggul bersama anak serta ayah dan ibunya. Juga warga lain.
Baca Juga: Update Banjir Jalur Pantura Kudus-Semarang: Lalu Lintas Lumpuh Total, Kemacetan Hingga 1 Km
Mereka tidur sehari semalam tanpa atap. Hanya beralaskan karpet yang sudah ada. Beruntung tidak turun hujan.
Supaya anaknya tidak kedinginan, ia selimuti dengan pakaian seadanya yang ia bawa.
Kemudian, keesokan harinya pada Jumat (9/2) sekitar pukul 09.00 ada tim SAR yang mengevakuasi. Mereka kemudian dibawa ke tempat pengungsian.
”Sampai di tempat pengungsian Balai Desa Jati Wetan sekitar pukul 12.00 WIB. Malah anak saya badannya panas,” jelasnya.
Begitu anaknya mengalami demam, Siti langsung memeriksakan anaknya ke posko kesehatan yang ada di Balai Desa Jati Wetan.
Langsung ditangani bidan dan dokter yang saat itu memantau situasi kesehatan pengungsi.
Setelah mendapatkan pengobatan bayinya berangsur membaik.
Sementara itu, Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kudus Darini mengatakan, anak dari Siti Solihah mendapatkan perhatian khusus.
Sebab, usianya masih tiga bulan. Selain itu, ia juga memantau ibu hamil yang jumlahnya ada tiga orang.
”Kami siapkan makanan yang bernutrisi untuk ibu hamil. Untuk bayi yang masih butuh susu formula kami sudah persiapan (baru mulai kemarin, Red). Balita juga kami pantau kesehatannya," ujarnya.
"Karena mereka tidurnya hanya beralaskan seadanya. Makanannya juga seadanya. Jadi pemenuhan gizi kami perhatikan. Tapi susu formula untuk balita belum ada. Yang ada baru untuk bayi,” lanjutnya. (san)
Editor : Ali Mustofa