KUDUS - Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memiliki belasan ribu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Potensi ini harus digenjot agar bisa menumbuhkan perekonomian di kalangan masyarakat kecil.
Berdasarkan data Dinas Ketenagakerjaan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disnakerperinkop dan UKM) Kabupaten Kudus, saat ini terdapat 18.277 UMKM di Kota Kretek. Ribuan UMKM itu bergerak di bidang tekstik, pakaian, makanan, dan minuman.
Syarifuddin Tanzil, calon legislatif (Caleg) DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah II (Demak, Kudus, Jepara) melihat belasan ribu UMKM itu bisa meningkatkan perekonomian rakyat.
“Potensi ini adalah wujud nyata kekuatan ekonomi kerakyatan. Jika digarap dengan serius, sebagian besar masyarakat Kudus bisa lebih sejahtera,” kata politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu, Selasa (16/1/2024).
Kemajuan teknologi, lanjut dia, tidak bisa disepelekan para pelaku UMKM. Bagi Syarifuddin Tanzil, mereka harus bisa menyesuaikan diri.
Sebagai pengusaha di bidang Informasi Teknologi, Syarifuddin Tanzil mendorong agar para pelaku UMKM mulai aktif mempromosikan produknya di dunia digital. Mereka harus bisa menguasai pemasaran di berbagai platform media sosial.
Syarifuddin Tanzil mengajak para pelaku UMKM memperbaiki branding dan merek usaha mereka. Sebab, calon pembeli akan tertarik pada produk tergantung dengan cara membranding produk itu sendiri.
“Saya sudah sangat lama bergelut di dunia bisnis. Persoalan branding memang kerap menjadi masalah bagi pengusaha kecil. Kedepan, saya akan bantu mereka untuk memperbaiki masalah-masalah seperti itu. Kita harus memastikan mereka bisa berdikari dengan usaha yang mereka jalankan,” imbuh Syarufuddin Tanzil.
Menurutnya, pemahaman pemasaran di dunia digital harus dikuasai oleh tiap pelaku UMKM. Karena saat ini tempat strategis memasarkan produk adalah di pasar digital. Calon pembelinya tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga berasal dari mancanegara. Apabila bisa dengan cerdik menguasai seluk-beluk pemasaran di pasar digital, maka semakin banyak produk UMKM di Kudus yang bisa diekspor.
Hingga saat ini produk UMKM yang diminati pembeli dari luar negeri terbilang minim. Dari 18. 277 UMKM yang terdata di Dinarperinkop dan UMKM Kabupaten Kudus, baru 15 UMKM yang bisa mengekspor produknya. Tanzil menyadari mengembangkan UMKM tidak mudah. Banyak hal yang menjadi kendala. Salah satunya keterbatasan modal. Ini yang membuat pelaku UMKM kesulitan mengembangkan usahanya.
Kendati demikian, Tanzil berharap pelaku UMKM Kudus bisa menemukan solusi. Dengan latar belakang sebagai pebisnis dengan jaringan luas, Tanzil akan mengupayakan agar pengusaha kecil bisa mengakses modal di perbankan dengan mudah. (*)
Editor : Abdul Rokhim