Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Akhirnya Terungkap! Ternyata Jalur Pendakian Gunung Muria Kudus Tanpa Pos Penjaga, Pantesan...

Arika Khoiriya • Senin, 29 Januari 2024 | 17:59 WIB
PROSES PENYELAMATAN: Tim BPBD bersama warga saat menyelamatkan pendaki Argo Piloso, Robiatul Nurul Fadilah, yang terpeleset ke jurang.
PROSES PENYELAMATAN: Tim BPBD bersama warga saat menyelamatkan pendaki Argo Piloso, Robiatul Nurul Fadilah, yang terpeleset ke jurang.

 

KUDUS – Robiatul Nurul Fadilah, pendaki asal Grobogan kecemplung jurang di kawasan jalur Muria atau pendakian Argo Piloso, Desa Japan, Dawe, Kudus sedalam 60 meter.

Beruntung, perempuan berusia 21 tahun itu hanya mengalami luka pada kaki kiri dan punggung bagian bawah. Serta perut lecet, korban juga alami kedinginan.

Robi-sapaannya adalah warga Dusun Kedaton Desa Pulorejo Kecamatan Purwodadi, Grobogan. Saat ini ia bersatus sebagai mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Pihak Desa Japan mengklaim tak ada penjagaan di pos pertama pendakian (area Rejenu).

Alhasil, setiap pendaki yang masuk jalur pendakian puncak Argo Piloso bebas masuk tanpa sepengetahuan warga.

Padahal, saat ini sudah memasuki musim penghujan, yang terbilang berbahaya untuk pendakian.

Kepala Desa Japan Sigit Tri Harso mengatakan, area air tiga rasa rejenu titik pos pertama pendakian puncak Argo Piloso.

Hingga saat ini pos pendakian itu tidak ada yang mengelola (belum terkelola, Red). Tak ada penjaga maupun pendataan pendaki yang masuk.

Dulu, kata dia, kalau ada yang hendak muncak, disuruh data isi buku tamu.

Kalau sekarang tidak ada pendataan, karena tidak ada penjaganya. Belum dikelola lagi. Pendaki bisa asal bebas tinggal naik.

"Belum ada personel yang jaga di pos pertama. Selain itu kan tidak ada retribusi yang masuk. Jika ada yang mendaki pun kami tidak tahu kalau tidak ada laporan," katanya.

Sehingga hal demikian, hanya bisa dipasrahkan kepada warga sekitar.

Kemungkinan, jelas dia, yang lebih tahu jika ada pendaki yang berencana memasuki jalur pendakian, yakni pihak penjaga warung sekitar Rejenu.

Pihak desa sendiri sudah sering memberikan peringatan, termasuk memberi pesan kepada penjaga makam untuk memberi tahu setiap pendaki yang datang.

Karena saat ini cuaca tidak menentu, bahkan sudah memasuki musim penghujan.

Pengelolaan pos pertama pendakian sampai saat ini belum ada kepastian.

Dulu, pihak desa mengklaim pernah mengajukan pengelolaan pos pendakian ke pihak Perhutani namun belum diacc. Pengajuan tersebut dilakukan pada 2023.

Alasannya karena itu berada di kewenangan di pihak pemerintah pusat. Padahal jalur pendakian puncak Argo Piloso itu setiap pekan ramai dijajal pendaki.

"Biasanya komunitas pendaki yang sudah tahu saya itu langsung ngasih kabar atau datang ke rumah untuk minta izin melakukan pendakian. Kalau orangnya dari luar daerah tidak terdeteksi," ungkapnya.

Sehingga untuk sementara ini, jika ada pendaki yang masuk pihaknya mengandalkan kecermatan para penjaga warung sekitar Rejenu.

"Karena medan pendakiannya itu agak susah. Kemarin waktu evakuasi dari TKP ke pos rejenu saja menghabiskan waktu empat jam, dari pukul 16.30 sampai 20.30. Padahal jarak tempuh normal hanya 2,5 jam," imbuhnya.

Medan pendakian tergolong susah lantaran bentuk jalan 90 derajat, yakni jalannya tegak lurus 90 derajat melewati akar-akar pohon yang cukup licin, dan dibawahnya adalah jurang. (ark)

Editor : Ali Mustofa
#pendakian #pendaki #jurang #grobogan #Gunung Muria #Kudus