Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Berkat Bendungan Logung, Petani di Kudus Kini Tak Takut Lagi Kekurangan Air saat Musim Kemarau

Galih Erlambang Wiradinata • Sabtu, 21 Oktober 2023 | 01:41 WIB
SEMPROTKAN: Petani menyemprotkan pupuk ke lahan pertanian.
SEMPROTKAN: Petani menyemprotkan pupuk ke lahan pertanian.

 

KUDUS - Hamparan lahan sawah hijau membentang di kawasan Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng).

Para penggarap lahan tengah menanti hasil dari masa tanam (MT) III walaupun sedang dilanda kemarau panjang.

Lahan produktif di sana masih terjaga suplai aliran airnya. Hal ini buah dari pembangunan Bendungan Logung yang diresmikan 2018 silam.

Kini para petani bisa menikmati distribusi air.

Bendungan Logung terletak di Kecamatan Dawe dan Jekulo. Pembangunan ini dimulai sejak tahun 2014 hingga 2018 dengan nilai kontrak Rp 620 miliar.

Fungsi bendungan ini saat musim penghujan sebagai tempat penampung air.

Saat musim kemarau tiba, air akan dipergunakan mengairi lahan pertanian.

Suplai air Bendungan Logung mengairi di dua wilayah Kecamatan Jekulo dan Mejobo. Bahkan di sebagian wilayah Kabupaten Pati.

Manfaat bendungan ini telah dirasakan 17 desa di dua kecamatan itu.

Sedangkan luasan lahan yang tersuplai aliran air dari bendungan mencapai 1,713 hektare.

Manfaat Bendungan Logung ini telah dirasakan Noor Huda, petani di Desa Jekulo.

Sebelum adanya Bendungan Logung, sangat berdampak pada suplai air ke lahan pertanian.

Para petani tidak bisa menanam padi saat musim kemarau.

Jalan alternatif saat itu, petani memilih menanam tanaman selain padi. Antarlain kacang, jagung, palawija, dan tanaman yang tak membutuhkan suplai air tak terlampau banyak. 

Pria yang juga menjabat sebagai ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Jekulo ini, tak lagi takut akan gagal panen dan mundurnya masa tanam.

Lantaran distribusi air digelontorkan tiap satu pekan sekali, pada Jumat hingga Senin. Pintu air bendungan dibuka sekitar pukul 07.00.

”Konsep aliran air di bagi ke dua pintu barat dan timur. Debit air yang kami terima (Dari pintu barat, Red) sebanyak 1.500 liter per detik,” katanya.

Para petani, kata Huda tak egois dalam memanfaatkan distribusi air Bendungan Logung.

Mereka membagi air dengan rata dan memakai sistem giliran antar petani.

”Perawatan saluran juga sangat penting untuk kelancaran distribusi air. Kami (Petani Jekulo, Red) secara swadaya merawat saluran itu agar tetap berfungsi,” ungkapnya.

Selain suplai air, para petani menyemprotkan pupuk organik seminggu sekali.

Hal sebagai langkah mensukseskan panen di tengah musim kemarau panjang. Sawah para petani tinggal menunggu panen di bulan November.

Sementara itu, Kordinator Lapangan Bedungan Logung, Muhammad Khozim menyatakan, pemaksimalan aliran bedungan tengah dilakukan.

Penambahan saluran irigasi menjadi program lanjutan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

”Target kami pembangunan jarinngan irigasi diharapkan mampu mengaliri lahan pertanian seluas 5.300 hektar,” ungkapnya.

Pembangunan jaringan irigasi saat ini mencakup 4.800 hetkar. Mencakup di Kecamatan Jekulo, Mejobo, dan sebagian wilayah di Kabupaten Pati.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Agus Setiawan mengungkapkan, para petani tidak perlu cemas saat dilanda kemarau panjang.

Berkat Bendungan Logung masa tanam semakin tertata dan aliran air masih mencukupi.

”Sempai saat ini wilayah Jekulo bagian selatan sudah mulai tanam. Di beberapa wilayah utara (Desa Tanjungrejo, Red) sudah mulai panen,” terangnya. (gal)

 

Editor : Ali Mustofa
#lahan pertanian #petani #musim kemarau #Kudus #pupuk organik #bendungan logung